CINTA itu emang buta,,dia tidak pernah peduli akan hadir untuk siapa,kepada siapa,danSiapa yang mendapatkanya..dia hadir bagai angin,yang selalu ada namun tak pernah terduga kehadirannya..setiap detik ia selalu berubah,terkadang ia juga dapat memberi suatu kesedihan,tapi itulah cinta kita takkan bisa menolak atau mengaturnya seperti apa yang kita inginkan…. Ini adalah kisahku yang selalu berusaha mencari arti cinta yang sesungguhnya..Ohya namaku radit,,aku mahasiswa di sebuah universitas yang cukup terkenal,,Semua berawal di pagi itu ketika aku bertemu dengan chika,seorang gadis yang membuatku terperangah melihat kecantikannya..seketika itu hatiku sangat berdebar saat dia lewat tepat di depan hadapanku,,aku hanya mampu tersenyum dan berharap bahwa dia kan menjadi milikku,namun apa mungkin seorang mahasiswa yang pas-pasan seperti aku bisa memiliki gadis seperti dia??namun karena rasa didalam hatiku yang sudah sangat menggebu aku beranikan diri untuk dapat bertemu dengannya,,awalnya aku sangat gugup,aku berfikir,, “ apakah dia mau menemuiku dan berbicara denganku,,??”Tiba-tiba saja nyali ku yang semula menggebu perlahan menciut seakan tak ada keinginan lagi untuk sekedar berkenalan denganya,,akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diri tuk berkenalan dengannya,dan ternyata apa yang aku takutkan tadi tidak terbukti,ternyata dia adalah gadis yang sangat baik dan sangat friendly pada semua orang,dia sangat terbuka kepada siapapun termasuk aku..sungguh ini adalah hal yang tak pernah ku duga sebelumnya,,aku merasa sebuah mimpi yang selama ini aku impikan seketika dapat terwujud.. Sebulan setelah perkenalan itu kami semakin akrab,,dan kami pun sudah sering pergi bersama untuk sekdar nonton,jalan,ataupun makan maam bersama..Sampai pada suatu ketika aku juga tidak sadar akan apa yang sudah aku lakukan,karena tiba-tiba saja aku menyatakan kata cinta kepadanya,,kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku,,entah apa yang aku pikirkan saat itu..namun aku heran melihat chika yang malah tertawa melihat sikap ku yang tiba-tiba menjadi salah tingkah itu..”ada apa denganmu,,kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu,,bercandanya gak lucu tau”ujar chika”è “aku juga ga ngerti ada apa dengan semua ini,tapi jujur yang aku tahu saat ini adalah…..aku…sayang sama kamu chik??aku pengen banget bisa jadi seseorang yang berarti buat kamu.”jawabku..“udah ah ga usah bercanda terus,,ga lucu tau..ucap chika yang masih tidak percaya dengan apa yang telah aku ucapkan tadi.”Tiba-tiba aku pun semakin tak bisa mengendalikan keadaan ini,krena aku telah terbawa keadaan ini..”aku tau chik emang aku ini suka bercanda,sering bohong,tapi untuk kali ini aku percaya kalau apa yang aku ucapkan tadi adalah dari hati aku..aku bener-bener sayang sama kamu chik,,ijinin aku chik buat jadi yang terbaik buat kamu”Tiba-tiba wajah chika berubah,seketika itu tanpa menjawab pertanyaanku tadi,, dia langsung pergi meninggalkan aku begitu saja..aku menjadi bingung dengan semua ini,,aku menjadi merasa berasalah kepadanya,,ke esokan harinya aku langsung menemuinya untuk meminta maaf tapi ternyata dia tak mau menemuiku,,berbagai cara sudah aku lakukan tetapi tetap saja dia tak pernah mau menemuiku..Sampai pada suatu hari aku merasa putus asa,aku berfikir mungkin memang aku pantas mendapat semua ganjaran ini..namun pada akhirnya dia mau memaafkan aku.. pada saat itu aku tidak lagi memikirkan bahwa aku akan memilikinya karena buatku sudah dapat tetap bertemu dan memandang senyum indahnya sudah cukup untukku..Namun semakin lama kita bersama akhirnya dia mau menerima cintaku.aku sangat bahagia sekali ketika itu,,aku merasa kehidupanku lengkap bersamanya.. Setahun sudah kami bersama,,setiap hari kami bertemu dan bersenang-senang bersama,,namun masalah muncul ketika aku mengenalkannya dengan sahabatku..ketika itu aku mengajaknya ke tempat dimana aku dan teman-teman aku berkumpul,,disana aku mengenalkan chika pada semua temanku termasuk sahabatku doni..Namun aku tidak tau kalau doni sudah lama kenal dengan chika,,karena chika tidak pernah cerita apa-apa kepadaku..yaa aku juga tidak menyalahkan mereka..pada suatu waktu saat aku dan chika ada masalah aku bercerita kepada doni.aku menjelaskan semua masalahku kepada dia,,dia pun selalu memberikan solusi yang terbaik untukku..Sampai suatu saat dia berkata kepadaku “dit lebih baik kamu segera putuskan chikaKarena aku tidak mau kalau dia menyakiti kamu”.ucapnya.“kenapa kamu berkata seperti tiu don,bukanya kamu yang dulu menyuruh aku buat menjaganya??”jawab kuIya itu dulu,namun aku sadar cewek seperti dia itu bukanlah type cewe yang terbaik,,kamu bisa dapatkan yang jauh lebih baik dari dia”ujarnya”Aku semakin heran dengan sikap doni yang seperti itu namun karena aku sudah kenal sama dia begitu lama aku langsung percayadengan ucapanya itu…Namun disitulah kebodohanku karena kau terlalu mempercayainya.. suatu hari aku pergi untuk melakukan karya ilmiah ke Surabaya aku berada disana selama 1 mingguSelama disana seperti biasa aku dan chika tetap menjaga dan berkomunikasiAgar hubungan kita tetap berjalan baik,,semua seakan baik-baik saja seperti tidak terjadi apa – apa karena tugas ku selesai dengan cepat lebih dari yang aku bayangkan aku dapat kembali lebih awal.Sebelum pulang aku sengaja mampir ke sebuah tempat untuk membelikan oleh-oleh buat chika namun aku tidak memberitahukan kepadanya bahwa aku akan kembali pada hari itu.Sepanjang perjalanan aku terus membayangkan saat-saat aku bisa kembali lagi bersamanyaNamun ketika aku sampai didepan rumah chika alangkah terkejutnya aku melihat chika dan doni sedang bersama..awalnya aku berfikir”mungkin mereka hanya sekedar berbicara biasa,layaknya seorang sahabat namun aku terkejut ketika doni mencium kening chika sambil memegang kedua tangannya,tanpa berfikir panjang aku langsung menghampiri mereka berdua dan memukul doni,,aku tidak menyangka sahabat yang selama ini aku percaya tega berbuat seperti itu kepada ku..Semenjak kejadian itu chika dan doni selalu mengejar aku untuk meminta maafNamun aku selalu menghindar karena aku masih belum bisa terima akan apa yang telah mereka lakukan kepadaku.. sampai pada akhirnya aku sadar bahwa kebahagiaan itu tidak selalu bisa aku dapatkan dari orang yang sempurna,namun dari seseorang yang terbaik,karena dari yang terbaik kita akan dapat mendapatkan semua kebahagiaan tanpa ada kebohongan dan penghianatan…Dan aku juga sadar bahwa sahabat itu tak slamanya kan menjadi sandaran buat kita,terkadang ia akan menjadi pedang yang siap menusuk kita kapan saja..
Rabu, 11 Agustus 2010
Mungkin
hari ni langit menampak kan kceriaan nya,matahari terpancar terang. tak ada segumpal awan yang menyelimuti hingga terik begitu menyengat.
hari ini hampir 1 tahun q sendiri,bersama kisah-kisah masa lalu ku. dulu begitu sangat aku mencintainya, q slalu mengingat tentang kisah bersama nya,karena kesamaan nama depan kita.kita juga sama-sama anak nomer 3,.
hemmmmmm mengingat kisah itu,hatiku ku begitu sakit terasa teriris.aku selalu berusaha bagaimana melupakan dia melupakan tentang rasa cintaku padanya.saat terpuruk ku karena rasa ku padanya datang seorang masa lalu ku. ku sambut dia dengan ramah dengan baik pula ia membalasnya.,
saat itu hingga sekarang dia masih hadir untuk ku,masih menemani kesendirian ku hingga kekasih nya meninggal kan dia karena aku. padahal ketika itu kami hanya bersahabat. karena rasa bersalah ku atas hubungan mereka aku berniat tuk melupakan persahabatan itu dan tetap dalam kesendirian, tapi ari sahabat ku tak mengijinkan nya. dan aku terus dengan rasa bersalah ku,sahabt ku menemani ku dan membantuku melupakan kisah-kisah lalu dengan cowok gk punya hati itu,.
hingga saat ini pun dia masih ada untuk ku tetapi dengan menbawa perbedaan yaitu sahabat jadi cinta mungki itu kah takdir cinta ku?
bukan kah masih ada hari esok yang mungkin aku bisa dipertemukan dengan lelaki lain yang mungkin itu bakan sahabat ku.
ku tak bisa menerima cinta sahabat ku,mungkin ini yang terbaik bagiku...
hari ini hampir 1 tahun q sendiri,bersama kisah-kisah masa lalu ku. dulu begitu sangat aku mencintainya, q slalu mengingat tentang kisah bersama nya,karena kesamaan nama depan kita.kita juga sama-sama anak nomer 3,.
hemmmmmm mengingat kisah itu,hatiku ku begitu sakit terasa teriris.aku selalu berusaha bagaimana melupakan dia melupakan tentang rasa cintaku padanya.saat terpuruk ku karena rasa ku padanya datang seorang masa lalu ku. ku sambut dia dengan ramah dengan baik pula ia membalasnya.,
saat itu hingga sekarang dia masih hadir untuk ku,masih menemani kesendirian ku hingga kekasih nya meninggal kan dia karena aku. padahal ketika itu kami hanya bersahabat. karena rasa bersalah ku atas hubungan mereka aku berniat tuk melupakan persahabatan itu dan tetap dalam kesendirian, tapi ari sahabat ku tak mengijinkan nya. dan aku terus dengan rasa bersalah ku,sahabt ku menemani ku dan membantuku melupakan kisah-kisah lalu dengan cowok gk punya hati itu,.
hingga saat ini pun dia masih ada untuk ku tetapi dengan menbawa perbedaan yaitu sahabat jadi cinta mungki itu kah takdir cinta ku?
bukan kah masih ada hari esok yang mungkin aku bisa dipertemukan dengan lelaki lain yang mungkin itu bakan sahabat ku.
ku tak bisa menerima cinta sahabat ku,mungkin ini yang terbaik bagiku...
Air Mata Pelacur
Sebut saja Imron, seorang lelaki yang hidup di lingkungan pondok pesantren dan masih melajang hingga usianya yang hampir berkepala empat, Imron bukan tidak ingin menikah, tapi kehidupannya yang memaksa untuk melakukan hal itu, kesulitan yang ia alami bersama keluarganya membuat Imron hampir tidak sempat memikirkan soal pernikahan, hingga suatu ketika Imron merasa di pojokan oleh teman-temannya akah halnya statusnya itu maka Imron memaksakan diri untuk mencari belahan hatinya, naas memang... setelah mencoba berbagai keberuntungan, mendatangi pak kyai yang mungkin ada santriwatinya yang mau dinikahi atau mungkin ada saudara pak kyai yang sudah siap menikah dan mau menerima Imron apa adanya, namun ternyata tak satupun dari mereka menerima pinangan Imron, kecewa memang karna walaubagaimanapun juga siapa yang mau dipinang oleh seorang bujang yang hampir berkepala empat.
Hingga suatu ketika imron benar-benar merasa putus asa, sementara tekanan batin dari luar dan dalam terus menghampirinya, Imron tidak mau terus-terusan berada dalam kekecewaan hingga akhrinya Imron memutuskan untuk menikahi seorang pelacur tepatnya pelacur yang bisa dibayar dengan murah, pelacur yang bisa memperbaiki statusnya, pelacur yang harus dibayar ketika akan digunakan. Dia memang berhasil mempersunting salah satu pelacur, dan iapun mendapatkan apa yang ia inginkan, pernikahan yang sah, perbaikan status dan kenikmatan duniawi tentunya. Tapi apa... hampir setiap malam ternyata Imron harus menunggu giliran, betapa sakit hatinya mendapati Istrinya harus dinikmati oleh pria lain, keputusannya yang salah, ketidak sabarannya dalam menjalani hidup ternyata malah membuat Imron merasakan penderitaan yang berlipat-lipat.
Hingga suatu ketika dimalam yang dingin dan sunyi, Imron memutuskan untuk untuk shalat taubat dan bermunajat kepada Allah akan kesulitan hidup yang ia hadapi, alangkah kagetnya ketika Imron mendapati Istrinya sedang menangis sesegukan dengan menggunakan pakaian khusus shalat para muslimah, Istrinya menuduk sujud dalam kepasrahan, kemudian Imron menghampirinya dan bertanya kepada Istrinya kenapa dia bisa menangis, ada apakah gerangan? dengan isak tangis yang tidak berhenti di iringi dengan lelehan air mata istrinya menjawab "Bagaimana mungkin aku tidak menangis sementara suamiku begitu ikhlas membagi diriku dengan pria lain!, apa kau tau hati ku sakit sekali karna suamiku ternyata orang yang lemah yang tidak bisa melindungi ku, hatiku perih karna suami adalah seorang jayus! apa kau tau bahwa surga itu diharamkan bagi para jayus" (suami yang membolehkan istriniya berbuat maksiat) Mendengar perkataan itu imron langsung merangkul Istrinya, berkali-kali ia mengecup kening Istrinya, ia bisa merasakan bagaimana ternyata selama ini ia telah salah sangka terhadap Istrinya, ia baru sadar kalau selama ini ternyata dirinya telah begitu menyakiti belahan hatinya yang seharusnya ia lindungi sepenuh hati dan jiwa.
Hingga suatu ketika imron benar-benar merasa putus asa, sementara tekanan batin dari luar dan dalam terus menghampirinya, Imron tidak mau terus-terusan berada dalam kekecewaan hingga akhrinya Imron memutuskan untuk menikahi seorang pelacur tepatnya pelacur yang bisa dibayar dengan murah, pelacur yang bisa memperbaiki statusnya, pelacur yang harus dibayar ketika akan digunakan. Dia memang berhasil mempersunting salah satu pelacur, dan iapun mendapatkan apa yang ia inginkan, pernikahan yang sah, perbaikan status dan kenikmatan duniawi tentunya. Tapi apa... hampir setiap malam ternyata Imron harus menunggu giliran, betapa sakit hatinya mendapati Istrinya harus dinikmati oleh pria lain, keputusannya yang salah, ketidak sabarannya dalam menjalani hidup ternyata malah membuat Imron merasakan penderitaan yang berlipat-lipat.
Hingga suatu ketika dimalam yang dingin dan sunyi, Imron memutuskan untuk untuk shalat taubat dan bermunajat kepada Allah akan kesulitan hidup yang ia hadapi, alangkah kagetnya ketika Imron mendapati Istrinya sedang menangis sesegukan dengan menggunakan pakaian khusus shalat para muslimah, Istrinya menuduk sujud dalam kepasrahan, kemudian Imron menghampirinya dan bertanya kepada Istrinya kenapa dia bisa menangis, ada apakah gerangan? dengan isak tangis yang tidak berhenti di iringi dengan lelehan air mata istrinya menjawab "Bagaimana mungkin aku tidak menangis sementara suamiku begitu ikhlas membagi diriku dengan pria lain!, apa kau tau hati ku sakit sekali karna suamiku ternyata orang yang lemah yang tidak bisa melindungi ku, hatiku perih karna suami adalah seorang jayus! apa kau tau bahwa surga itu diharamkan bagi para jayus" (suami yang membolehkan istriniya berbuat maksiat) Mendengar perkataan itu imron langsung merangkul Istrinya, berkali-kali ia mengecup kening Istrinya, ia bisa merasakan bagaimana ternyata selama ini ia telah salah sangka terhadap Istrinya, ia baru sadar kalau selama ini ternyata dirinya telah begitu menyakiti belahan hatinya yang seharusnya ia lindungi sepenuh hati dan jiwa.
Cinta 24 Jam
Semenjak mendengar ramalan itu, kini hati Fabian mulai resah dan gundah. Entah apa yang harus dia lakukan. Dan juga menyoal soal percaya atau tidak percaya terhadap ramalan tersebut. Karena pada tanggal 8 Agustus akan ada suatu peristiwa yang, mungkin tidak semua orang menginginkannya. Ya, Fabian kini tengah resah tentang ramalan itu. Apalagi ia adalah seorang public figure juga sekaligus penyanyi terkenal di Jakarta.
Menjelang launching album ke 2nya dan juga sekaligus mengadakan press conference mengenai pertunangannya dengan Tika, sebenarnya Fabian tidak ingin mengikuti acara tersebut dan berniat untuk kabur. Dan benar saja Fabian nekat kabur. Tak pelak ini membuat Tika dan manajemen Fabian bak kebakaran jenggot. Karena acara sebentar lagi dimulai. “Ini pasti ada masalah dengan dia!” keluh Tika dengan nada panik. “emang tuh, dari awal dia kayaknya udah nggak mau dengan acara ini” ujar Arie sang manjaer dari Fabian. Dan akhirnya pun Fabian menghilang tanpa jejak, seperti ditelan bumi. Apakah gerangan yang membuat Fabian jadi kabur? Tak lain tak bukan adalah soal ramalan itu.
Lantas Kemanakah Fabian kabur? Ternyata diam – diam ia kabur ke Bali. Ia bermaksud untuk menenangkan diri dari berbagai permasalahan yang membelitnya. Tapi tak selamanya di Bali itu menenangkan baginya, itu terbukti ketika ia sedang berjalan-jalan sendirian, para wartawan dengan peralatan lengkap menyerbu Fabian dengan beribu pertanyaan soal menghilangnya ia kemarin di acara launching albumnya. Apakah ia akan meladeni para wartawan tersebut? Tentu saja tidak, ia langsung berlari menghindari para wartawan bagaikan dikejar maling saja. Tapi di perjalanan pelariannya itu, Fabian bertemu dengan seorang gadis yang memakai pakaian pengantin tengah duduk di pinggir jalan. Karena merasa dikejar pengantin itu pun ikut berlari, dan akhirnya mereka berdua menumpang mobil bak terbuka yang hendak melaju. Hap...!!! mereka berdua menaiki mobil itu dengan gesitnya. Dan akhirnya Fabian bisa terlepas dari kejaran awak media. Tapi sialnya ada satu wartawan yang berhasil mengambil fotonya. Dan berusaha melaporkan kepada tunangannya Tika. Lalu bagaimana dengan pengantin itu?
Di dalam mobil itu pun terjadi perdebatan hebat. “Eh siapa kamu?, ah... aku tau pasti kamu pengantin gadungan kan?” cetus Fabian. “Enak aja, aku ini kabur dari perkawinan yang mestinya sekarang waktunya!” jawab pengantin yang kabur itu. Setelah terjadi perbincangan diantara mereka. Akhirnya mereka turun disuatu tempat. Belum habis sampai disitu, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berpisah. Namun entah nasib apa yang mereka terima, mereka berdua kembali menemukan sepucuk masalah. Fabian kembali bertemu dengan para wartawan. Sedangkan pengantin tadi bertemu dengan keluarganya agar ia bisa kembali pulang dan melangsungkan perkawinan. Akhirnya pun mereka berdua pun berlari menghindari permasalahannya. Dan mereka bertemu kembali. Mungkin inilah yang namanya jodoh !
Lantas apa yang akan mereka lakukan? “Gini aja deh, gimana kalo kamu nemenin aku jalan – jalan di Bali ini seharian?”ajak Fabian. “Oke, daripada aku pulang, nambah masalah”. Akhirnya kedua pasangan yang baru kenal ini sepakat untuk jalan – jalan di Bali seharian. The First, mereka akan makan siang di sebuah restoran yang menyajikan pemandangan Pantai yang indah dengan menu membicarakan pengalaman mereka yang dialaminya tadi. “Eh ngomong-ngomong kita belum kenalan, Aku Fabian kamu siapa?”. “Oh...aku Dara !!!”. “Oh ya katanya kamu artis, tapi kok kamu bisa kabur ke sini?”. Tanya Dara yang sedang meghadapi artis papan atas itu. “Oh itu..., Jadi begini ini semua karena umur aku yang gak lama lagi!”. “Hah... maksudnya?, kamu gak kena kanker atau becanda kan?”tanya Dara keheranan begitu mendengarnya. “Ini karena ramalan !!!, waktu itu aku dengan temanku ketemu dengan seorang ibu-ibu yang gak sengaja nabrak aku, terus dia bilang sama temenku “Nak...hati-hati ajalmu sudah dekat, mungkin dalam hitungan satu menit ke depan kamu sudah tidak ada” dan untuk kamu (Fabian) umur kamu tidak akan lama lagi yaitu tanggal 8 Agustus pas tengah malam!” terang ibu itu. “Awalnya gue gak percaya, tapi ramalan itu benar. Sewaktu kita pulang, temenku itu ketabrak dan akhirnya nyawanya tak tertolong”tegas Fabian. “Tapi, hari gini masih percaya ramalan?, terus sekarang kan tanggal 8 Agustus.”ungkap Dara, dengan perasaan masih tidak percaya apa yang telah diceritakan oleh Fabian tadi. “Untuk itu, aku ngajak kamu untuk nemenin hari – hari terakhirku!, terus masalah kamu tadi kaenapa?”. “Soal perkawinan tadi, sebenarnya udah 3 kali aku ngelakuin ini. Ini karena aku tidak merasa yakin akan pilihanku itu” ungkap Dara.
Setelah perbincangan itu Fabian dan Dara kembali untuk bersenang – senang dan menghabiskan waktunya ke tempat – tempat menarik seperti Legian, Kuta, dan Tanah Lot. Tak terasa seharian mereka berdua menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan, dan mungkin sekaligus ini menjadi hari terkahirnya Fabian. Dan kini waktu menunjukan pukul 10 malam, kini mereka berdua sedang duduk duduk termenung di pinggir pantai. “Apakah kamu yakin akan menemaniku hingga jam 12 nanti?” tanya Fabian, yang tengah sadar waktunya hampir habis. “Aku takkan membuatmu pergi, takkan membuatmu lari, takkan ku bagi cinta ini dengan yang lain, takkan membuatmu perih, takkan membuatmu pedih, Aku selalu disini !”. “Sebelumnya aku mau minta maaf, udah ngerepotin kamu, dan terima kasih kamu telah memberikan arti di hidupku yang sempit ini”. begitulah kata terakhir yang mereka berdua ucakan.
Waktu terus bergulir, detik demi detik, menit demi menit, waktu kian tak terasa. Sekarang hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Mereka berdua kini menunggu waktu tersebut, tanggal 8 Agustus tengah malam. Apakah semua ramalan itu benar atau hanya kebohongan keji? Raut muka mereka berdua nampak pasrah dan cemas. Waktu menunjukan pukul 23.59, artinya satu menit lagi waktu yang tersisa untuk Fabian. Dan lima...empat...tiga...dua...satu...teng jam 12 malam tepat. Tapi tidak ada satu pun kejadian yang aneh dalam diri Fabian. Lantas apa maksud dari ramalan itu, siapa yang menjadi korban? “Nah...mana ramalan itu? Cuma boongan kan?” sindir Dara. “Ya, mungkin itu cuma sebatas ramalan saja!, terus kita besok gimana?”. tanya Fabian, yang hatinya sudah lega karena ramalan itu tak terbukti. “Mau gimana lagi, nampaknya aku harus pulang, tapi aku ingin nanti besok sore kita ketemuan lagi di sini, karena akan ada kejutan dariku !”. “Oke, tapi sebelum itu aku ingin megutarakan sesuatu!” dengan nada serius Fabian mengungkapkan rasa cintanya terhadap Dara. “Walaupun kita baru bertemu, tapi aku tak ragu untuk bisa mengatakan cinta kepadamu, biarpun hanya 24 jam aku menyatakan cinta kepadamu tapi itu tetap namanya cinta”. “Dan jika nanti kusanding dirimu, miliki aku dengan segala kelemahanku, dan bila nanti engkau disampingku, jangan pernah letih ‘tuk mencintaiku!”.
Keesokan harinya mereka berdua berpisah, tetapi mereka masih terikat janji untuk bertemu lagi di tempat semalam tadi. Akhirnya dengan berat hati mereka berdua berpisah. Setelah mereka sudah saling berjauhan. Fabian untuk sementara pulang ke hotelnya. Sedangkan Dara sudah dijemput oleh om dan tantenya, tetapi ada sesuatu yang terjadi pada Dara. Apakah itu? Ternyata saat Dara menyebrang ia tak sengaja terjatuh, dan kebetulan disana ada sebuah mobil yang melaju kencang. Dan.....??? mungkin anda sudah tahu apa yang terjadi pada Dara. Kontan saja Dara langsung dibawa ke rumah sakit oleh om dan tantenya.
Keesokan harinya, yang seharusnya Dara bertemu dengan Fabian di Tanah Lot, tapi dengan kondisinya sekarang pasca kecelakan tadi pagi, membuat Dara harus beristirahat total. Setelah ia sadarkan diri, baru ia sadar bahwa sekarang ada janji dengan Fabian, sontak saja Dara langsung berdiri dari tempat tidur rumah sakit. Brakk...!!!, Dara terjatuh, dan bertanya – tanya, kenapa ia bisa terjatuh? Ternyata kaki kanan Dara sudah tidak ada. “Mana kakiku....???teriaknya histeris. “Ini karena kecelakaan tadi pagi nak, kaki kamu harus diamputasi !”terang tantenya Dara. Ini membuat Dara cacat sumur hidup. Kaki kanannya terpaksa diamputasi, karena sangat riskan jika dibiarkan. Mendengar penjelasan itu, membuat Dara seakan tidak percaya meilhat kondisinya sekarang. Apakah ini jawaban dari ramalan tersebut? Tapi kenapa Dara yang menjadi korban? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang!
Di lain pihak, Fabian tidak tahu tentang persoalan tersebut. Bahkan ia kemarin menunngu Dara di tempat yang kemarin mereka telah janjikan, tapi Dara tak kunjung datang. Ini membuat Fabian kesal dan akhirnya ia meninggalkan tempat itu dengan membawa segudang rasa kesal dan setumpuk pertanyaan. “Kenapa ia tidak datang, mungkinkah ia lupa dengan janjinya?”keluh Fabian. Setelah tidak mendapatkan kabar dari Dara, akhirnya Fabian pulang ke Jakarta dengan menyimpan rasa kangen hatinya.
Yang terkubur dalam emosi tanpa bisa bersembunyi, aku dan nafasku merindukanmu. Terpuruk ku disini teraniaya sepi dan ku tahu pasti kau menemani. Dalam hidupku kesendirianku, teringat ku teringat pada janjimu kuteringat, hanya sekejap kuberdiri, kulakukan sepenuh hati. Peduli ku peduli siang dan malam yang berganti, sedihku ini tak ada arti jika kaulah sandaran hati.
Setibanya di Jakarta, Fabian berencana ingin mengurus permasalahan soal pertunangan yang kemarin dengan Tika dan soal promo album dengan manajernya. Mereka bertiga ketemuan di sebuah café. “Tika, soal hubungan kita lebih baik berhenti disini saja, karena aku sudah tak sanggup lagi dan maafkan bila ku melukai hatimu dan cinta, sunngguh ku tak sanggup berpaling darinya dan baiknya kau tak perdulikan diriku dan yang terjadi padaku sebaiknya kau relakan aku melepaskanmu.”begitulah penjelasan dari Fabian, soal hubungannya dengan Tika. “Oke, jika itu mau kamu, lebih baik kita berpisah selamanya”. Akhirnya Tika pun langsung keluar dari café itu dengan rasa benci yang amat mendalam. Dan kini hanya tersisa Arie dan Fabian, mereka berdua sekarang tengah membahas promo albumnya. Setelah terjadi diskusi yang cukup alot, akhirnya mereka berdua sepakat untuk tetap bekerjasama.
Sekarang Fabian telah sukses sebagai penyanyi dengan berbagai serangkaian turnya dalam rangka promo albumnya. Tapi di tengah kesuksesan itu, Fabian masih merindukan sosok Dara. Yang kini tidak diketahui keberadaannya. Di dalam hatinya ia berharap Dara segera kembali “Aku sudah rindu lincah manja sifatmu, aku sangat rindu kasih saying darimu, walupun kita saling mengenal dalam tempo 24 jam, tapi bagiku tetap namnya cinta!” ungkap Fabian di dalam hatinya berbisik.
Dalam suatu kesempatan ia mendapatkan tur ke Bali lagi, ini membuat hati Fabian senang. Dan berharap bisa bertemu lagi dengan Dara walaupun hanya sesaat. Suatu ketika Arie melaporkan kepada Fabian tentang seorang fans yang ingin memberikan hadiah kepadanya. “Fab, tadi aku ketemu sama cewek yang cacat mau ngasihin hadiah ini ke loe, sebenernya aku males, tapi aku kasihan lihat dia, jadi aku terima aja!”. Setelah dibuka hadiahnya ternyata hanya jam pasir. Tapi Fabian sedikit banyak mengenali jam pasir ini, dan ya...!!! Fabian teringat dengan jam pasir ini, ini milik Dara. Tapi apakah mungkin ini...???.Setelah mendengar itu, Fabian dan Arie lansung mencari gadis tadi sekaligus ingin memastikan apakah ia Dara atau bukan. Tempat demi tempat telah mereka datangi tapi mereka tak kunjung menemukan Dara. Dimanakah Dara sekarang berada?
Suatu ketika Dara duduk termenung sekaligus meratapi nasibnya kini di pinggir pantai tempat dimana ia dan Fabian sedang berduaan. Tapi kini keadaan berubah 180°, dengan kondisinya sekarang yang kini menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan, ia hanya bisa pasrah. Tiba – tiba dari arah belakang ada seorang menghampirinya dan lelaki itu langsung menutup kedua bola matanya. “Apakah kau percaya cinta akan kembali? dan masih ingatkah engkau kepadaku?, sesungguhnya aku hilang tanpamu!” tanya lelaki itu, yang perlahan - lahan melepaskan tangannya dari mata Dara. Setelah Dara berbalik badan, ternyata lelaki itu adalah Fabian. Seiring berjalannya waktu, cinta telah mempertukan mereka berdua dengan indah.
“Akhirnya ku menemukanmu saat hati ini mulai merapuh, dan ku berharap engkaulah jawaban segala risau hatiku, dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku!” ujar Fabian. “Ternyata cintalah yang menjawab semuanya, dan aku mungkin adalah korban dari ramlan itu, tapi apakah kamu masih yakin dengan kondisiku seperti ini?” tanya Dara. “Walaupun kondisimu seperti ini aku akan tetap berusaha mencintai kamu!”. Akhirnya mereka berdua hidup dalam kebahagian yang sempurna dan mereka saling mencintai. Walaupun mereka hanya cinta dalam waktu 24 jam. Tapi itulah CINTA.
Menjelang launching album ke 2nya dan juga sekaligus mengadakan press conference mengenai pertunangannya dengan Tika, sebenarnya Fabian tidak ingin mengikuti acara tersebut dan berniat untuk kabur. Dan benar saja Fabian nekat kabur. Tak pelak ini membuat Tika dan manajemen Fabian bak kebakaran jenggot. Karena acara sebentar lagi dimulai. “Ini pasti ada masalah dengan dia!” keluh Tika dengan nada panik. “emang tuh, dari awal dia kayaknya udah nggak mau dengan acara ini” ujar Arie sang manjaer dari Fabian. Dan akhirnya pun Fabian menghilang tanpa jejak, seperti ditelan bumi. Apakah gerangan yang membuat Fabian jadi kabur? Tak lain tak bukan adalah soal ramalan itu.
Lantas Kemanakah Fabian kabur? Ternyata diam – diam ia kabur ke Bali. Ia bermaksud untuk menenangkan diri dari berbagai permasalahan yang membelitnya. Tapi tak selamanya di Bali itu menenangkan baginya, itu terbukti ketika ia sedang berjalan-jalan sendirian, para wartawan dengan peralatan lengkap menyerbu Fabian dengan beribu pertanyaan soal menghilangnya ia kemarin di acara launching albumnya. Apakah ia akan meladeni para wartawan tersebut? Tentu saja tidak, ia langsung berlari menghindari para wartawan bagaikan dikejar maling saja. Tapi di perjalanan pelariannya itu, Fabian bertemu dengan seorang gadis yang memakai pakaian pengantin tengah duduk di pinggir jalan. Karena merasa dikejar pengantin itu pun ikut berlari, dan akhirnya mereka berdua menumpang mobil bak terbuka yang hendak melaju. Hap...!!! mereka berdua menaiki mobil itu dengan gesitnya. Dan akhirnya Fabian bisa terlepas dari kejaran awak media. Tapi sialnya ada satu wartawan yang berhasil mengambil fotonya. Dan berusaha melaporkan kepada tunangannya Tika. Lalu bagaimana dengan pengantin itu?
Di dalam mobil itu pun terjadi perdebatan hebat. “Eh siapa kamu?, ah... aku tau pasti kamu pengantin gadungan kan?” cetus Fabian. “Enak aja, aku ini kabur dari perkawinan yang mestinya sekarang waktunya!” jawab pengantin yang kabur itu. Setelah terjadi perbincangan diantara mereka. Akhirnya mereka turun disuatu tempat. Belum habis sampai disitu, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berpisah. Namun entah nasib apa yang mereka terima, mereka berdua kembali menemukan sepucuk masalah. Fabian kembali bertemu dengan para wartawan. Sedangkan pengantin tadi bertemu dengan keluarganya agar ia bisa kembali pulang dan melangsungkan perkawinan. Akhirnya pun mereka berdua pun berlari menghindari permasalahannya. Dan mereka bertemu kembali. Mungkin inilah yang namanya jodoh !
Lantas apa yang akan mereka lakukan? “Gini aja deh, gimana kalo kamu nemenin aku jalan – jalan di Bali ini seharian?”ajak Fabian. “Oke, daripada aku pulang, nambah masalah”. Akhirnya kedua pasangan yang baru kenal ini sepakat untuk jalan – jalan di Bali seharian. The First, mereka akan makan siang di sebuah restoran yang menyajikan pemandangan Pantai yang indah dengan menu membicarakan pengalaman mereka yang dialaminya tadi. “Eh ngomong-ngomong kita belum kenalan, Aku Fabian kamu siapa?”. “Oh...aku Dara !!!”. “Oh ya katanya kamu artis, tapi kok kamu bisa kabur ke sini?”. Tanya Dara yang sedang meghadapi artis papan atas itu. “Oh itu..., Jadi begini ini semua karena umur aku yang gak lama lagi!”. “Hah... maksudnya?, kamu gak kena kanker atau becanda kan?”tanya Dara keheranan begitu mendengarnya. “Ini karena ramalan !!!, waktu itu aku dengan temanku ketemu dengan seorang ibu-ibu yang gak sengaja nabrak aku, terus dia bilang sama temenku “Nak...hati-hati ajalmu sudah dekat, mungkin dalam hitungan satu menit ke depan kamu sudah tidak ada” dan untuk kamu (Fabian) umur kamu tidak akan lama lagi yaitu tanggal 8 Agustus pas tengah malam!” terang ibu itu. “Awalnya gue gak percaya, tapi ramalan itu benar. Sewaktu kita pulang, temenku itu ketabrak dan akhirnya nyawanya tak tertolong”tegas Fabian. “Tapi, hari gini masih percaya ramalan?, terus sekarang kan tanggal 8 Agustus.”ungkap Dara, dengan perasaan masih tidak percaya apa yang telah diceritakan oleh Fabian tadi. “Untuk itu, aku ngajak kamu untuk nemenin hari – hari terakhirku!, terus masalah kamu tadi kaenapa?”. “Soal perkawinan tadi, sebenarnya udah 3 kali aku ngelakuin ini. Ini karena aku tidak merasa yakin akan pilihanku itu” ungkap Dara.
Setelah perbincangan itu Fabian dan Dara kembali untuk bersenang – senang dan menghabiskan waktunya ke tempat – tempat menarik seperti Legian, Kuta, dan Tanah Lot. Tak terasa seharian mereka berdua menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan, dan mungkin sekaligus ini menjadi hari terkahirnya Fabian. Dan kini waktu menunjukan pukul 10 malam, kini mereka berdua sedang duduk duduk termenung di pinggir pantai. “Apakah kamu yakin akan menemaniku hingga jam 12 nanti?” tanya Fabian, yang tengah sadar waktunya hampir habis. “Aku takkan membuatmu pergi, takkan membuatmu lari, takkan ku bagi cinta ini dengan yang lain, takkan membuatmu perih, takkan membuatmu pedih, Aku selalu disini !”. “Sebelumnya aku mau minta maaf, udah ngerepotin kamu, dan terima kasih kamu telah memberikan arti di hidupku yang sempit ini”. begitulah kata terakhir yang mereka berdua ucakan.
Waktu terus bergulir, detik demi detik, menit demi menit, waktu kian tak terasa. Sekarang hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Mereka berdua kini menunggu waktu tersebut, tanggal 8 Agustus tengah malam. Apakah semua ramalan itu benar atau hanya kebohongan keji? Raut muka mereka berdua nampak pasrah dan cemas. Waktu menunjukan pukul 23.59, artinya satu menit lagi waktu yang tersisa untuk Fabian. Dan lima...empat...tiga...dua...satu...teng jam 12 malam tepat. Tapi tidak ada satu pun kejadian yang aneh dalam diri Fabian. Lantas apa maksud dari ramalan itu, siapa yang menjadi korban? “Nah...mana ramalan itu? Cuma boongan kan?” sindir Dara. “Ya, mungkin itu cuma sebatas ramalan saja!, terus kita besok gimana?”. tanya Fabian, yang hatinya sudah lega karena ramalan itu tak terbukti. “Mau gimana lagi, nampaknya aku harus pulang, tapi aku ingin nanti besok sore kita ketemuan lagi di sini, karena akan ada kejutan dariku !”. “Oke, tapi sebelum itu aku ingin megutarakan sesuatu!” dengan nada serius Fabian mengungkapkan rasa cintanya terhadap Dara. “Walaupun kita baru bertemu, tapi aku tak ragu untuk bisa mengatakan cinta kepadamu, biarpun hanya 24 jam aku menyatakan cinta kepadamu tapi itu tetap namanya cinta”. “Dan jika nanti kusanding dirimu, miliki aku dengan segala kelemahanku, dan bila nanti engkau disampingku, jangan pernah letih ‘tuk mencintaiku!”.
Keesokan harinya mereka berdua berpisah, tetapi mereka masih terikat janji untuk bertemu lagi di tempat semalam tadi. Akhirnya dengan berat hati mereka berdua berpisah. Setelah mereka sudah saling berjauhan. Fabian untuk sementara pulang ke hotelnya. Sedangkan Dara sudah dijemput oleh om dan tantenya, tetapi ada sesuatu yang terjadi pada Dara. Apakah itu? Ternyata saat Dara menyebrang ia tak sengaja terjatuh, dan kebetulan disana ada sebuah mobil yang melaju kencang. Dan.....??? mungkin anda sudah tahu apa yang terjadi pada Dara. Kontan saja Dara langsung dibawa ke rumah sakit oleh om dan tantenya.
Keesokan harinya, yang seharusnya Dara bertemu dengan Fabian di Tanah Lot, tapi dengan kondisinya sekarang pasca kecelakan tadi pagi, membuat Dara harus beristirahat total. Setelah ia sadarkan diri, baru ia sadar bahwa sekarang ada janji dengan Fabian, sontak saja Dara langsung berdiri dari tempat tidur rumah sakit. Brakk...!!!, Dara terjatuh, dan bertanya – tanya, kenapa ia bisa terjatuh? Ternyata kaki kanan Dara sudah tidak ada. “Mana kakiku....???teriaknya histeris. “Ini karena kecelakaan tadi pagi nak, kaki kamu harus diamputasi !”terang tantenya Dara. Ini membuat Dara cacat sumur hidup. Kaki kanannya terpaksa diamputasi, karena sangat riskan jika dibiarkan. Mendengar penjelasan itu, membuat Dara seakan tidak percaya meilhat kondisinya sekarang. Apakah ini jawaban dari ramalan tersebut? Tapi kenapa Dara yang menjadi korban? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang!
Di lain pihak, Fabian tidak tahu tentang persoalan tersebut. Bahkan ia kemarin menunngu Dara di tempat yang kemarin mereka telah janjikan, tapi Dara tak kunjung datang. Ini membuat Fabian kesal dan akhirnya ia meninggalkan tempat itu dengan membawa segudang rasa kesal dan setumpuk pertanyaan. “Kenapa ia tidak datang, mungkinkah ia lupa dengan janjinya?”keluh Fabian. Setelah tidak mendapatkan kabar dari Dara, akhirnya Fabian pulang ke Jakarta dengan menyimpan rasa kangen hatinya.
Yang terkubur dalam emosi tanpa bisa bersembunyi, aku dan nafasku merindukanmu. Terpuruk ku disini teraniaya sepi dan ku tahu pasti kau menemani. Dalam hidupku kesendirianku, teringat ku teringat pada janjimu kuteringat, hanya sekejap kuberdiri, kulakukan sepenuh hati. Peduli ku peduli siang dan malam yang berganti, sedihku ini tak ada arti jika kaulah sandaran hati.
Setibanya di Jakarta, Fabian berencana ingin mengurus permasalahan soal pertunangan yang kemarin dengan Tika dan soal promo album dengan manajernya. Mereka bertiga ketemuan di sebuah café. “Tika, soal hubungan kita lebih baik berhenti disini saja, karena aku sudah tak sanggup lagi dan maafkan bila ku melukai hatimu dan cinta, sunngguh ku tak sanggup berpaling darinya dan baiknya kau tak perdulikan diriku dan yang terjadi padaku sebaiknya kau relakan aku melepaskanmu.”begitulah penjelasan dari Fabian, soal hubungannya dengan Tika. “Oke, jika itu mau kamu, lebih baik kita berpisah selamanya”. Akhirnya Tika pun langsung keluar dari café itu dengan rasa benci yang amat mendalam. Dan kini hanya tersisa Arie dan Fabian, mereka berdua sekarang tengah membahas promo albumnya. Setelah terjadi diskusi yang cukup alot, akhirnya mereka berdua sepakat untuk tetap bekerjasama.
Sekarang Fabian telah sukses sebagai penyanyi dengan berbagai serangkaian turnya dalam rangka promo albumnya. Tapi di tengah kesuksesan itu, Fabian masih merindukan sosok Dara. Yang kini tidak diketahui keberadaannya. Di dalam hatinya ia berharap Dara segera kembali “Aku sudah rindu lincah manja sifatmu, aku sangat rindu kasih saying darimu, walupun kita saling mengenal dalam tempo 24 jam, tapi bagiku tetap namnya cinta!” ungkap Fabian di dalam hatinya berbisik.
Dalam suatu kesempatan ia mendapatkan tur ke Bali lagi, ini membuat hati Fabian senang. Dan berharap bisa bertemu lagi dengan Dara walaupun hanya sesaat. Suatu ketika Arie melaporkan kepada Fabian tentang seorang fans yang ingin memberikan hadiah kepadanya. “Fab, tadi aku ketemu sama cewek yang cacat mau ngasihin hadiah ini ke loe, sebenernya aku males, tapi aku kasihan lihat dia, jadi aku terima aja!”. Setelah dibuka hadiahnya ternyata hanya jam pasir. Tapi Fabian sedikit banyak mengenali jam pasir ini, dan ya...!!! Fabian teringat dengan jam pasir ini, ini milik Dara. Tapi apakah mungkin ini...???.Setelah mendengar itu, Fabian dan Arie lansung mencari gadis tadi sekaligus ingin memastikan apakah ia Dara atau bukan. Tempat demi tempat telah mereka datangi tapi mereka tak kunjung menemukan Dara. Dimanakah Dara sekarang berada?
Suatu ketika Dara duduk termenung sekaligus meratapi nasibnya kini di pinggir pantai tempat dimana ia dan Fabian sedang berduaan. Tapi kini keadaan berubah 180°, dengan kondisinya sekarang yang kini menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan, ia hanya bisa pasrah. Tiba – tiba dari arah belakang ada seorang menghampirinya dan lelaki itu langsung menutup kedua bola matanya. “Apakah kau percaya cinta akan kembali? dan masih ingatkah engkau kepadaku?, sesungguhnya aku hilang tanpamu!” tanya lelaki itu, yang perlahan - lahan melepaskan tangannya dari mata Dara. Setelah Dara berbalik badan, ternyata lelaki itu adalah Fabian. Seiring berjalannya waktu, cinta telah mempertukan mereka berdua dengan indah.
“Akhirnya ku menemukanmu saat hati ini mulai merapuh, dan ku berharap engkaulah jawaban segala risau hatiku, dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku!” ujar Fabian. “Ternyata cintalah yang menjawab semuanya, dan aku mungkin adalah korban dari ramlan itu, tapi apakah kamu masih yakin dengan kondisiku seperti ini?” tanya Dara. “Walaupun kondisimu seperti ini aku akan tetap berusaha mencintai kamu!”. Akhirnya mereka berdua hidup dalam kebahagian yang sempurna dan mereka saling mencintai. Walaupun mereka hanya cinta dalam waktu 24 jam. Tapi itulah CINTA.
Pujaan Hatiku
Cinta ini akan tetap tertanam dilubuk hati ini bersama PUJ44N_H4T1ku, Ku akan tetap mengenang saat indah bersamamu walau alam telah memisahkan kita tapi ku yakin suatu saat nanti kita akan bersatu dalam bahtera cinta.Saat melepas kepergianmu air mata ini jatuh bercucuran namun ku yakin kau akan tetap manjadi GUARDIAN ANGEL yang selalu bersamaku, Ku ingin kau tetap bersemayam dihatiku, Ku ingin kau tetap menjadi cahaya dihidupku, Ku ingin kau tetap menjadi bintang di hatiku. wajahmu selalu menghiasi setiap mimpi-mimpi indahku, selalu menemani setiap tidurku,selalu menemani hari-hariku.PUJ44N_H4T1ku ku akan slalu menunggu sampai saat itu tiba, ku akan slalu berdoa untuk itu.TUHAN tutuplah pintu hati ini untuk cinta yang lain, Biarkan hati ini tetap menjadi milik PUJ44N_H4T1ku. Ku akan slalu menjaga cinta ini untukmu….AMIN
Sang Mantan
Kehidupanku yang redup tanpa semangat dan hanya kegelapan nyata berubah sepenuhnya, seakan cahanya putih menerangi kesepianku yang telah lama menyelimuti hidupku. Setiap kumemangdang hari yang lalu, penyasalanku semakin membara di hatiku. Sahabatku, Dina bilang kita harus melupakan masa lalu yang rentang dan membuka lembaran baru untuk kehidupan yang baru pula. Sudah kuusahakan semua itu, namun rasa penyesalanku tidak pernah menghilang begitu saja dibenakku, seakan lembaran putih yang baru ingin kebuka berubah menjadi hitam pekat dan aku harus membersihkannya dulu. Namun semua itu berubah ketika seseorang yang bahkan tidak terfikirkan olehku hadir kembali dalam kehidupanku yang rentang ini. Dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan untukku, untuk membuat senyumku kembali seperti dulu. Saat aku berjalan menyusuru koridor sekolah, seseorang melewati ku dia berjalan santai seraya tanpa beban dipundaknya, aku berhenti sejenak memangdang punggunnya. Tiba-tiba dia menoleh kearahku dan tersenyum kemudian meneruskan langkahnya kembali. Aku tersentak saat dia tersenyum padaku, buru-buru aku melanjutkan langkahku dan menahan senyum yang mengembang dihatiku terdalam dan berharap dia tidak mengetahui salah tingkahku, malukan! Pikirku.Kabanyakan orang mungkin tidak mood dan malas saat seseorang yang pernah tinggal dalam hati kita dan kemudian menyakiti kita kembali di kehidupan yang baru. Namun itu bukan yang sedang kurasakan sekarang, entah apa dan mengapa yang terjadi kepadaku itu masih membinggungkanoleh diriku sendiri. Tak tahu mengapa saat melihatnya rasa penyesalanku sedikit terobati, dia adalah Evan, sang mantan. Evan kembali kekehidupanku yang telah lama aku lupakan. Setelah pertemuan teakhir kita di taman kota baru Jakarta 4 tahun yang lalu. Ku kira aku tidak akan pernah lagi bertemu dengannya, namun dugaan ku salah. Bahkan dia pindah ke sekolahku di SMA Kartini Jakarta. “Kyky!” seseorang menyapaku, aku menoleh pada suara dibelakangku, “ternyata kau!” ucapku pada Dina, sahabatku. Dina sahabatku sejak duduk dibangku SD, dia tahu seluk beluk dalamku dan dia juga tahu tentang Evan, pastinya. Karna hanya kepada Dina aku mengutarakan dan menumpahkan isi dihatiku. “kau sudah tahu kalau dia pindah ke sekolah ini?” Tanya Dina ragu-ragu, aku tidak menjawab dan hanya mengangukan kepala. Tatapanku masih pada papan pengumuman yang kulihat dari tadi. “jadi bagaimana menurutmu?” Tanya Dila yang belum puas. “memang apa yang ku harap kan padanya, aku bukanlah siapa-siapa untuknya bahkan mungkin dia sudah melupakan hubungan yang pernah terjalin diantara kita, atau mungkin dia sudah lupa denganku!” jawabku, terlihat Dila semakin kesal “aku tahu perasahanmu padanya dan rasa penyesalan itu!” ucap Dila kemudian, aku memandangnya tajam “itu masa lalu bukan, dan seperti yang kau bilang, kita harus melupakan masa lalu yang rentang dan membuka lembaran baru untuk kehidupan yang baru pula” jawabku santai. “wohh salut dengan ingatanmu yang super!” ucap Dila yang semakin kesal. “apa sih yang kau baca dari tadi?” Tanya Dila, dia memang sadar kalo dari tadi aku sedang membaca pengumuman yang tertempel di papan pengumuman. “lomba puisi!” ucap Dila yang baru saja membaca judul pengumuman itu. “kau tertarik?” tanyaku, yang kini memalingkan pandanganku pada Dila yang tepat berdiri didepanku, tinggi kita hampir sama. “bukannya aku yang harus bilang, Kyky kau tertarik tidak?” Tanya Dila dengan nada lebaynya. “ehhmm entahlah, lomba itu diadakan sebulan lagi, pendaftaran dimulai seminggu lagi, aku harus mengirimkan satu puisi, tapi.. entah kenapa semangatku sedang redum saat ini.”. “apa karna penyesalanmu?” Tanya Dila menebak. Aku tidak menjawabnya, karna itu memang benar dibenakku masih ada sedikit rasa penyesalan yang belum lenyap, ingin rasanya aku mengatakan itu padaya tapi hati ini keburu sakit. Dila masih menunggu jawaban dariku, tapi untung saja Bell masuk terdengar tanpa basa basi aku menarik lengannya dan masuk kekelas. Belum sampai kekelas dia kembali melewatiku, aku spontan berhenti kemudian disusul Dila yang ada dibelakangku “Evan” gumamku lirih, tanpa ku sadari sebelumnya, Evan menoleh dan kemudian tersenyum padaku, saat itu waktu seakan berhenti berputar dan nadiku seakan berhenti berdetak. Dila yang yang beru memperhatikan tingkahku, dia hanya berdaham-daham rame, sebelum berlanjut lama aku menarik Dila dan masuk kekelas sebelum guru-guru datang.
♥ ♥ ♥
Semakin hari berjalan dan waktu ini semakin berutar, perasaan itu masih tetap tebanyang. Sudah ku berusaha keras untuk melupakan hal yang lalu namun hasilnya nihil. Saat dia tersenyum apakah berarti dia masih care denganku, ataukah aku yang kecentilan. Hari ini tanggal 7 July tepat hari ulang tahunnya. Dan hari ini aku berencana untuk memberikan sesuatu untuknya. saat bell istirahat berbunyi itulah saatnya aku memutuskan untuk kekelasnya, XIIipa2 hanya beberpa kelas dari XIIapa5, kelasku. Aku berjalan melewati korodor sekolah menuju kelasnya, ditanganku ada sekotak kado untuknya. aku memang sudah mempersiapakan sendiri. Saat sampai didepan kelasnya, tiba-tiba rasa kekhawatiran dan was-was melandaku, aku bahkan merasa takut untuk bertemu dengannya. Tiba-tiba dia keluar dari kelas, aku terkejut dan menyembunyikan tanganku dibelakang punggungku. “hai!” sapa Evan. “hai juga” balasku gugup. “kau ingin menemuiku?” tanyanya kemudian. Aku memalingkan muka dan berharap dia tidak melihat wajahku. “Evan!” suara memanggil Evan, aku dan Evan sontak menoleh padanya, ternyata Riri kelas XIIips1, “hai beb! Ke kantin yuk!” ucapnya. Dan aku baru sadar kalo Evan bener-bener udah melupakanku, aku menyesal sudah kesini. “kau kesana saja dulu, nanti kususul” jawab Evan pada Riri, dan kemudian Riri pergi. Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan kembali ke kelas, itu lebih baik. Karna saat ini perasaah ku hancur lebur seakan di gigiti oleh serigala yang lapar. Dan saat aku melangkah sebuah tangan menarik lenganku, aku menoleh ternyata Evan “kau kesini bukan untuk menyapaku saja kan?” tanyanya dengan candanya. Aku menatapnya tajam, dia benar-benar berubah. Dia lebih tinggi, lebih tampan dan lebih dewasa, namun yang tidak berubah adalah candanya, yang selalu ku rindukan. “apa itu? yang ditangan kamu?” Tanya Evan penasaran yang melihat bungkusan kotak ditanganku. Aku menoleh pada bungkusan kotak itu, “ngg ini untuk mu” ucapku dengan menyerahkan bungkusan kotak itu yang ditanganku. “untuk ku?” Tanya Evan lagi. “yah, happy birthday” jawabku. Evan menerimanya, dia menatap kotak itu dan kemudian menatapku dan itu membuatku gugup. “kau masih mengigat ulang tahunku?” tanyanya kemudian dia tampak serius dari pada sebelumnya. Aku bahakn tidak tahu, dia akn menanyakan hal itu, itu diluar jangkauan ku. “aku tidak sengaja masih menyimpan pengingat di ponselku” jawabku gugup, kali ini benar-benar gugup. Aku melangkah pergi dari tempat itu, “hai, thanks!” teriak Evan saat aku sudah didepan kelas XIIipa4, aku tidak menjawabnya, aku hanya tersenyum dan melanjutkan langkahku.Saat itu semuanya berubah, Evan selalu menyapaku dia juga terkadang mengajakku. Penyesalanku sedikit terobati, dia tidak melupakanku itu cukup untuk membuat hidup ku tenang sekarang, tidak dihantui rasa bersalah. “Kyky” seseorang memanggilku, aku menoleh tampak Evan dari kejauhan dengan lari-lari kecilnya mengarah padaku. Bell pulang sekolah udah lewat 2 jam yang lalu. “kau belum pulang?” tanyaku saat dia sudah ada disampingku. Dia tidak menjawab langsung, sepertinya dia ngos-ngosan. “ngg kau sibuk sekarang?” tanyanya kemudian. Aku mengeleng, dan kemudian dia menarik lenganku dan menyuruhku naik kemptor yang diparkirkan didepan sekolah. “kau mau mengajakku kamana? Jangan-jangan kau mau menyulikku?” tanyaku saat motor itu melaju cepat, dann entah kemana tujuaannya. “tenang saja, aku tidak akan menculikmu, lagian siapa yang mau denganmu!” serunya dengan nada keras agr terdengar olehku. Jalanan macet banyak kendaraan yang lewat. Sepuluh menit kemudian kami tiba di pantai. Pantai ini begitu sepi, disini juga tidak terlalu luas hanya beberapa meter saja, namun suasananya berbeda degan yang lainya. Disini lebih sejuk dan pohon-pohon kelapa juga tampak dipesisirnya. Pasir disini juga tampak putih dan bersih. Ini bisa untuk tempat pariwisata, kenapa jarang oaring yang berkunjung disini! Pikirku. “disini, aku selalu menumpahkan kekesalanku. Suasanyanya berbeda, disini juga jarang ada orang jadi kau bebas berekspresi disini” ujar Evan, yang kini duduk dan disusul oelhku. “kau benar!”. Burung-burung seakan bernyanyi-nyanyi memainkan alunan music dihatiku. “apakah aku boleh menjadikan ini menjadi tempat faforitku?” tanyaku pada Evan. “tentu saja” jawabnya singkat.
♥ ♥ ♥
Dan hari sesudahnya, Evan sering mengajakku pergi, kadang ke pantai, ke mall kadang juga kita belajar bersama buat mempersiapin ujian nanti. “mungkin dia suka denganmu lagi” ujar Dila saat kuceritakan semua yang terjadi padaku. “yah tidak mungkin lah, dia tuh udah punya cewek”. Mendengar jawabanku Dila langsung melotot padaku. “siapa?” tanyanya penasarang, “Riri” jawabku singkat. Dila tidak percaya bahwa Riri adalah cewek Evan. “yah udahlah kekantin yuk!” ajakku, dengan nada lemas. Dila tidak menjawab, dia langsung melangkahkan kakinya menuju kantin. Tiba-tiba Dilla berhenti, spontan aku yang sedang dibelakangnya juga berhenti. “kenapa berhenti?” tanyaku. Tampak Dila mengingat sesuatu, dia emnepukan keningnya dengan tangannya. “aku lupa, kamu harus bantu aku, titik!” ujarnya yang langsung menarikku menuju kelas. “apa sih?” tanyaku lagi ketika Dila mengeluarkan selembar kertas dan bolpain di meja dudukku. ”bantuin aku buatin puisi, please! Mohon dila, tapi aku belum paham dengan semaunya. “aku harus buat puisi agar nilai bahasa indonesiak yang kurang kemarin memenuhi nilaiku sekarang. please yah!”mohon Dila lagi. “aku lagi tidak punya ide!” selaku. “gimana kalo tema cinta, ceritanya bahwa seseorang saling bercinta kemudian mereka putus gara-gara pangerannya pergi meninggalkan dan putrinya belum bilang kalau dirinya juga mencintai pangeran itu, rasa menyesal melandanya…”. “bentar.. kok kisahnya mirip!” potong aku. Tapi Dila Cuma nyengir. “besok dikumpulin, BU Asti pasti marahain aku”, ucap Dila dengan ekspresi wajah cemas dan takut. “loh bukannya nilai kamu kemarin bahasa indonesia lumayan bagus kok” protesku. “pokoknya ini harus dikumpulin segera, tolong, kalau kamu masih mengangapku sahabat”, gara-gara Dila memaksa, aku tidak bisa berkutik lagi, terpaksa aku membutkan puisi untuknya. limabelas menit kemudian aku memberikan sepucuk kertas pada Dila yang berisi puisi, untung ajah dia mau membelikan jajan di kantin sebagai mengganti, aku membuatkan puisi untuknya, lumayanlah mumpung gratis.Pulang sekolah Evan mengajakku ke pantai lagi, katanya hari ini ada pameran yang diadakan disana, Evan bilang Duta wisata menjadaikan pantai itu sebagai tempat wisata yang harus dijaga. Dan saat kami tiba disana hanya keramaian yang ada. Pameran perdana yang diadakan disini adalah sebagai acara pembuka pantai ini sebagai tempat wisata. Hari ini adalah hari yang sangat membahagaiankan untukku. Ternyata Evan tidak berubah ia masih tidak suka dengan keramaian, padahal dia jyang mengajakku ke pameran ini, malah dia yang tak mau masuk ke pantai. “kau memakai kalung pemberianku?” tanyaku pada Evan saat ku melihat kalung yang pernah kukasih untuknya melilt dileher manisnya. Karna Evan tidak mau melihat keramaian kami hanya berjalan-jalan disekitar pantai yang sepi. Tampak Evan melirik kalung yang dipakainya, “aku suka kalung ini, mengapa tidak ku pake, sia-sia bukan!” jawabnya. Dia berhenti dan menatapku, dia tampak tersenyum. Aku membalas senyumnya, kemudian dia menarik tanganku dan memberikan sesuatu ditanganku. Sebelum dia mengijinkanku membuka tanganku, dia melangkahkan langkahnya. Tanganku merasa tak enak segera aku membuka tangannku yang menggumpal. Cacing! Pekikku. “aggrrhhh!” aku teriak dan langsung membuang cacing kepasir. “EVAN……….!!!”
♥ ♥ ♥
Sebulan berlalu begitu cepat, bahkan rasa penyasalan yang sekian lama menghantuiku kini semakin lama semakin redup dan menipis dibenakku. Hari-hariku kini serasa berbagai bunga-bunga yang sedang mekar dimusim seminya, tapi sepertinya langit tak mendukung pendapatku, awan gelap dan angin yang berhembus ria dipagi ini memberikan tanda-tanda hari akan hujan. aku berjalan menuju gerbang sekolah sebelum Dila berteriak dibelakangku. “ada apa?” tanyaku. Namun Dila tidak menjawabnya, dia tampak ngos-ngosan, mungkin habis berlari. “kau menang!” jawabnya kemudian. “maksudmu?” tanyaku yang belum mengerti maksud Dila. “maaf, aku mengirimkan puisi yang kau buat sebagai bukti pendaftaranmu. Hari ini”, kemudian dia berlari setelah emnjawab itu. aku baru menyadari maksdunya. Lalu aku mengejarnya dengan rasa marah, kesal, senang campur aduk kayak rujak.Baiklah kita sambut satu persatu finalis lomba puisi sekolah yang nantinya 3 besar yang akan kita pilih sebagai sang puisitis. Baiklah kita sambut pemenang dengan nomor urut pertama, andaini arya yang akan mengekpresikan puisinya dengan membacanya. setelah MC membacakan daftar nama pemenang lomba puisi tahun ini diatas panggung. Tepuk tangan dari siswa-siswi SMA Pelita terdengar ramai. “kau mau kemana, nomor undianmu 10” ujar Dila ketika melihatku akn pergi meninggalkan nya. “aku mau kekelas Vian bentar” jawabku. Aku melangkah menuju kelas Vian, sedang Dila ternyata tidak mau ditinggal dan dia ikut. Spontan aku berhenti dan Dila yang ada dibelakangku menabrakku, saat kami sampai didepan kelas Evan “ada apa?” Tanya Dila lirih hampir membisik malah. “ada Riri didalam” jawabku singkat. Aku memang melihat Riri didalam kelas Evan, dan mereka hanya berdua. Aku tidak mau melihat semua itu namun Dila menahanku untuk pergi dari tempat itu. “beb, aku tau kok, kenapa kamu kesekolah ini, aku juga ngerti apa yang sedang kamu pikirkan sekarang” Suara Dila memang keras, jadi tanpa menguping aku dan Dilapun pasti akan dengar. Namun kami tidak mendengar jawaban darii Evan, mungkin dia memang diam saja. “aku tahu ini semua ada hubungannya kan dengan Kyky, mantan kamu”. Aku langsung tertegun Mendengar namaku disebut-sebut, Dila tampak serius mendengarkannya. Sedangkan aku malah tak enak perasaanku. “aku tahu kamu ngedeketin dia, dan setelah dia tertarik denganmu kamu akan membuangnya karna dia udah pernah menyakitimu”. Mendengar semua itu seraya hantaman keras memukul wajahku yang kini tampak pucat. Evan tampak melirik keluar dan tanpa kusadari dia melihatku didepan kelasnya. Aku langsung berlari dan saat itulah tangisku meledak. Dila menyusulku. Aku berhenti di belokan kantin, disana sepi tak tampak satupun orang, mungkin karna siswa-siswi sedang sibuk menonton lomba puisi yang diadakan di lapangan basket di tengah sekolah dengan panggung seperti biasa. Disana aku benar-benar menangis, tiba-tiba Dila tampak datang menuju ke arahku dan memeluku. Baiklah kita lanjutkan dengan nomor undian 8. MC tampak membacakan nomer undian berikutnya. “sebentar lagi giliranmu, tapi aku tidak memaksa untuk mengikuti lomba ini kok, dari awal kau memang tidak mau, jadi aku tidak akan memaksamu”. Aku diam saja menatap tanaman kecil yang dipot depan kantin, aku tidak bisa menahan tangisku lagi, tampak Dila yang ada disampingku juga matanya berkaca-kaca. Tepuk tangan meria terdengar dari lomba, sesorang yang mempunyai nomor undi 8 tampak turun dari tangga kecil panggung. Dan kita langjutkan dengan peserta nomor 9, kyky aprilia. “itu giliranmu, tapi aku benar-benar tidak memaksakan, aku hanya ingin sahabatku bahagia” ucap Dila. Tapi aku tidak menjawabnya pikiranku masih tertuju pada Evan, kenapa harus percaya dengan. Bodoh! Makiku dalam hati. Saudara kyky aprilia dimohon keatas panggung, suara itu jelas-jelas kudengar, tapi aku tidak beranjak sedikitpun dari tempat itu aku merasa tidak kuat lagi untuk berbicara, seakan mulut ini membeku dengan isak tangis yang tak tertahan. “biar aku yang bilang pada MC bahwa kau mengundurkan diri” ucap Dila yang kini meninggalkan tempat itu. aku berdiri dan menahan lengan Dila, kemudian Dila menoleh padaku “aku akan membacakan puisi itu!” ucapku, yang kini meninggalkan Dila dengan kebimbangan. Kini aku berdiri di panggung tanpa sepucuk kertas apapun yang berisikan puisi yang akan kubaca seperti yang lainnya. “kau tidak membawa puisimu?” Tanya salah satu MC, kerna aku tidak membawa apapun. “aku sudah menghafalnya!” asalku, padahal akupun baru tahu kalo aku ikut lomba ini.
Ingatkah kau kenangan yang dulu
Benci, kesal, marah yang kau lakukan
Tapi satu yang ku selalu ingat
I love you yang kau utarakan
aku berhenti sejenak, rasanya tak kuat lagi tuk berbicara. Tangisku meledak disana dan suasana semaki hening. Kemudian aku melanjutkannya.
Sembunyi-sembunyi pahitnya bersamamu
Kau berusaha untuk menghapus pahitnya itu
Dan masa itu berlalu hingga lautanmu menghancurkannya
Kau ada untukku, walau tak kuinginkan
Kau datang padaku, walau tak kuharapkan
Dan saat kau pergi, semuanya hampa bagiku
Kehilangan bagaikan serparuh jiwaku menghilang
ditelan kesepian
kini penyesalan bertubi-tubi menghantam
tak kuat aku rasa, seraya hidupku tak ada arti
bagai lautan yang kering rentang tanpa air
waktu berputar dan kini kau kembali dengan senyuman
kau rangkul tanganku, memberikan semangat baru
namun semuanya tak nyataa
ku hanya mengejar harapan kosong
bahakan anginpun tak dapat meraih itu
hingga tubuh ini merasa tak berdaya lagi
wahai sang mantan
aku berhenti, semua tepuk tangan bahkan lebih ramai dari peserta lain terdengar. Pipiku basah dipenuho air mata yang terus mengalir. Tampak Dila pun ikut menangis. Tubuhku lemas, jemariku terasa dingin dan aku berlari pergi dari panggung, semua penonton menatap kepergiaanku. Aku berlari di koridor-koridor sekolah, tak peduli semua penghuni sekolah menatapku, tak peduli kaki ini terasa melambat. “Kyky!” Evan meneriaki namaku, namun aku tak memperdulikannya.Aku tidak tahu kemana aku kan pergi, tapi pantai itu lah yang pertama kali muncul dibenakku. Aku pergi ke pantai yang sering kudatangi bersama Evan. Berharap disana sepi dan dugaanku benar tak seorangpun ada dipantai itu, aku tidak memikirkan kenapa karna aku tak mau memikirkan. Aku memandang sejauh pantai, lombak-ombak seakan bergerak-gerak menerjangi pasir. Bunyi langkah terdengar dibelakangku dan kemudian berhenti. “apa tujuanku kembali kekehidupanku?” tanyaku pada sosok yang datang dibelakangku. Aku tahu dia Evan parfumnya yang kukenal, aku tidak menoleh pdanya.”apa hanya untuk menyakitiku?” tanyaku lagi tapi masih tetap tak menoleh. “apa maksudmu?” Tanya Evan kemudian. “kenapa kau tak puas setelah apa yang ka perbuat untukku, kenapa kau senang melihatku sakit, Evan” teriakku padanya yang kini ku menatapnya, pipiku masih basah. “aku bersumpah, aku tidak pernah berysaha menyakitimu Ky, tidak pernah sekalipun” ucap Evan, dia menatapku tajam. Aku menangis dan tubuhku lemas, hingga akhirnya aku terduduk. “jangan mendekat!” teriakku saat Evan mulai mendekat. “tapi kenapa kau pergi meninggalkanku tanpa pamit, aku pergi tanpa memberitahuku. Kenapa aku harus tahu bahwa kau pergi dari orang lain, kenapa Evan?” tanyaku dengan nada kesal, marah kecewa. Evan diam saja dia tampak belum mengerti, atau memang pura-pura tak mengerti. “kau pergi tanpa memberi kesempatan untuku, kesempatan bahwa aku mulai menyayangimu!” ucapku. Tangisku meledak lagi, aku menundukan kepala agar Evan tidak melihat wajahku. Evan mendekat dan kemudian memelukku. “aku tidak pernah pergi dari kehidupanmu, aku akan tetap disisimu dan asal kau tahu kau akan selalu ada dihatiku sampai kau bilang bahwa kau mencintaiku” ucap Evan yang kini memelukku erat. “aku mencintaimu, sang mantan!” ucapku malu-malu, tapi itulah yang ku inginkan dari dulu, mengatakan bahwa aku mencintainya. Aku tersenyum manja, rasanya penyasalan dulu bbenar-benar lenyap. “jangan katakan aku sang mantan. Karna aku bukanlah mantanmu, aku tetap milikmu dari dulu”, ucapnya halus. “heh tunggu kau bilang aku tak pamit saat aku pergi?” tanyanya kemudian, aku melepaskan pelukaknya namun kita masih terduduk. “kau memang tak pamit” jawabku singkat. “aku memberimu surat, dan menyuruhmu pergi ketaman. Kau tahu betapa lamanya aku menunggu dan ternyata kau tak datang!”. “aku tidak menerima surat apapun” bingungku. “sudahlah, lihat itu” Evan menunjukan dua burung merpati putih yang berduaan di pesisir pantai. Aku dan Evan sama-sama tertawa, Evan menoleh padaku dia mengusapkan air mata dipipiku. Dia menatapku tajam dan akupun melakukan hal yang sama, kemudian dia mencium keningku. “I love you”
-tamat-
by: novia Andini
♥ ♥ ♥
Semakin hari berjalan dan waktu ini semakin berutar, perasaan itu masih tetap tebanyang. Sudah ku berusaha keras untuk melupakan hal yang lalu namun hasilnya nihil. Saat dia tersenyum apakah berarti dia masih care denganku, ataukah aku yang kecentilan. Hari ini tanggal 7 July tepat hari ulang tahunnya. Dan hari ini aku berencana untuk memberikan sesuatu untuknya. saat bell istirahat berbunyi itulah saatnya aku memutuskan untuk kekelasnya, XIIipa2 hanya beberpa kelas dari XIIapa5, kelasku. Aku berjalan melewati korodor sekolah menuju kelasnya, ditanganku ada sekotak kado untuknya. aku memang sudah mempersiapakan sendiri. Saat sampai didepan kelasnya, tiba-tiba rasa kekhawatiran dan was-was melandaku, aku bahkan merasa takut untuk bertemu dengannya. Tiba-tiba dia keluar dari kelas, aku terkejut dan menyembunyikan tanganku dibelakang punggungku. “hai!” sapa Evan. “hai juga” balasku gugup. “kau ingin menemuiku?” tanyanya kemudian. Aku memalingkan muka dan berharap dia tidak melihat wajahku. “Evan!” suara memanggil Evan, aku dan Evan sontak menoleh padanya, ternyata Riri kelas XIIips1, “hai beb! Ke kantin yuk!” ucapnya. Dan aku baru sadar kalo Evan bener-bener udah melupakanku, aku menyesal sudah kesini. “kau kesana saja dulu, nanti kususul” jawab Evan pada Riri, dan kemudian Riri pergi. Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan kembali ke kelas, itu lebih baik. Karna saat ini perasaah ku hancur lebur seakan di gigiti oleh serigala yang lapar. Dan saat aku melangkah sebuah tangan menarik lenganku, aku menoleh ternyata Evan “kau kesini bukan untuk menyapaku saja kan?” tanyanya dengan candanya. Aku menatapnya tajam, dia benar-benar berubah. Dia lebih tinggi, lebih tampan dan lebih dewasa, namun yang tidak berubah adalah candanya, yang selalu ku rindukan. “apa itu? yang ditangan kamu?” Tanya Evan penasaran yang melihat bungkusan kotak ditanganku. Aku menoleh pada bungkusan kotak itu, “ngg ini untuk mu” ucapku dengan menyerahkan bungkusan kotak itu yang ditanganku. “untuk ku?” Tanya Evan lagi. “yah, happy birthday” jawabku. Evan menerimanya, dia menatap kotak itu dan kemudian menatapku dan itu membuatku gugup. “kau masih mengigat ulang tahunku?” tanyanya kemudian dia tampak serius dari pada sebelumnya. Aku bahakn tidak tahu, dia akn menanyakan hal itu, itu diluar jangkauan ku. “aku tidak sengaja masih menyimpan pengingat di ponselku” jawabku gugup, kali ini benar-benar gugup. Aku melangkah pergi dari tempat itu, “hai, thanks!” teriak Evan saat aku sudah didepan kelas XIIipa4, aku tidak menjawabnya, aku hanya tersenyum dan melanjutkan langkahku.Saat itu semuanya berubah, Evan selalu menyapaku dia juga terkadang mengajakku. Penyesalanku sedikit terobati, dia tidak melupakanku itu cukup untuk membuat hidup ku tenang sekarang, tidak dihantui rasa bersalah. “Kyky” seseorang memanggilku, aku menoleh tampak Evan dari kejauhan dengan lari-lari kecilnya mengarah padaku. Bell pulang sekolah udah lewat 2 jam yang lalu. “kau belum pulang?” tanyaku saat dia sudah ada disampingku. Dia tidak menjawab langsung, sepertinya dia ngos-ngosan. “ngg kau sibuk sekarang?” tanyanya kemudian. Aku mengeleng, dan kemudian dia menarik lenganku dan menyuruhku naik kemptor yang diparkirkan didepan sekolah. “kau mau mengajakku kamana? Jangan-jangan kau mau menyulikku?” tanyaku saat motor itu melaju cepat, dann entah kemana tujuaannya. “tenang saja, aku tidak akan menculikmu, lagian siapa yang mau denganmu!” serunya dengan nada keras agr terdengar olehku. Jalanan macet banyak kendaraan yang lewat. Sepuluh menit kemudian kami tiba di pantai. Pantai ini begitu sepi, disini juga tidak terlalu luas hanya beberapa meter saja, namun suasananya berbeda degan yang lainya. Disini lebih sejuk dan pohon-pohon kelapa juga tampak dipesisirnya. Pasir disini juga tampak putih dan bersih. Ini bisa untuk tempat pariwisata, kenapa jarang oaring yang berkunjung disini! Pikirku. “disini, aku selalu menumpahkan kekesalanku. Suasanyanya berbeda, disini juga jarang ada orang jadi kau bebas berekspresi disini” ujar Evan, yang kini duduk dan disusul oelhku. “kau benar!”. Burung-burung seakan bernyanyi-nyanyi memainkan alunan music dihatiku. “apakah aku boleh menjadikan ini menjadi tempat faforitku?” tanyaku pada Evan. “tentu saja” jawabnya singkat.
♥ ♥ ♥
Dan hari sesudahnya, Evan sering mengajakku pergi, kadang ke pantai, ke mall kadang juga kita belajar bersama buat mempersiapin ujian nanti. “mungkin dia suka denganmu lagi” ujar Dila saat kuceritakan semua yang terjadi padaku. “yah tidak mungkin lah, dia tuh udah punya cewek”. Mendengar jawabanku Dila langsung melotot padaku. “siapa?” tanyanya penasarang, “Riri” jawabku singkat. Dila tidak percaya bahwa Riri adalah cewek Evan. “yah udahlah kekantin yuk!” ajakku, dengan nada lemas. Dila tidak menjawab, dia langsung melangkahkan kakinya menuju kantin. Tiba-tiba Dilla berhenti, spontan aku yang sedang dibelakangnya juga berhenti. “kenapa berhenti?” tanyaku. Tampak Dila mengingat sesuatu, dia emnepukan keningnya dengan tangannya. “aku lupa, kamu harus bantu aku, titik!” ujarnya yang langsung menarikku menuju kelas. “apa sih?” tanyaku lagi ketika Dila mengeluarkan selembar kertas dan bolpain di meja dudukku. ”bantuin aku buatin puisi, please! Mohon dila, tapi aku belum paham dengan semaunya. “aku harus buat puisi agar nilai bahasa indonesiak yang kurang kemarin memenuhi nilaiku sekarang. please yah!”mohon Dila lagi. “aku lagi tidak punya ide!” selaku. “gimana kalo tema cinta, ceritanya bahwa seseorang saling bercinta kemudian mereka putus gara-gara pangerannya pergi meninggalkan dan putrinya belum bilang kalau dirinya juga mencintai pangeran itu, rasa menyesal melandanya…”. “bentar.. kok kisahnya mirip!” potong aku. Tapi Dila Cuma nyengir. “besok dikumpulin, BU Asti pasti marahain aku”, ucap Dila dengan ekspresi wajah cemas dan takut. “loh bukannya nilai kamu kemarin bahasa indonesia lumayan bagus kok” protesku. “pokoknya ini harus dikumpulin segera, tolong, kalau kamu masih mengangapku sahabat”, gara-gara Dila memaksa, aku tidak bisa berkutik lagi, terpaksa aku membutkan puisi untuknya. limabelas menit kemudian aku memberikan sepucuk kertas pada Dila yang berisi puisi, untung ajah dia mau membelikan jajan di kantin sebagai mengganti, aku membuatkan puisi untuknya, lumayanlah mumpung gratis.Pulang sekolah Evan mengajakku ke pantai lagi, katanya hari ini ada pameran yang diadakan disana, Evan bilang Duta wisata menjadaikan pantai itu sebagai tempat wisata yang harus dijaga. Dan saat kami tiba disana hanya keramaian yang ada. Pameran perdana yang diadakan disini adalah sebagai acara pembuka pantai ini sebagai tempat wisata. Hari ini adalah hari yang sangat membahagaiankan untukku. Ternyata Evan tidak berubah ia masih tidak suka dengan keramaian, padahal dia jyang mengajakku ke pameran ini, malah dia yang tak mau masuk ke pantai. “kau memakai kalung pemberianku?” tanyaku pada Evan saat ku melihat kalung yang pernah kukasih untuknya melilt dileher manisnya. Karna Evan tidak mau melihat keramaian kami hanya berjalan-jalan disekitar pantai yang sepi. Tampak Evan melirik kalung yang dipakainya, “aku suka kalung ini, mengapa tidak ku pake, sia-sia bukan!” jawabnya. Dia berhenti dan menatapku, dia tampak tersenyum. Aku membalas senyumnya, kemudian dia menarik tanganku dan memberikan sesuatu ditanganku. Sebelum dia mengijinkanku membuka tanganku, dia melangkahkan langkahnya. Tanganku merasa tak enak segera aku membuka tangannku yang menggumpal. Cacing! Pekikku. “aggrrhhh!” aku teriak dan langsung membuang cacing kepasir. “EVAN……….!!!”
♥ ♥ ♥
Sebulan berlalu begitu cepat, bahkan rasa penyasalan yang sekian lama menghantuiku kini semakin lama semakin redup dan menipis dibenakku. Hari-hariku kini serasa berbagai bunga-bunga yang sedang mekar dimusim seminya, tapi sepertinya langit tak mendukung pendapatku, awan gelap dan angin yang berhembus ria dipagi ini memberikan tanda-tanda hari akan hujan. aku berjalan menuju gerbang sekolah sebelum Dila berteriak dibelakangku. “ada apa?” tanyaku. Namun Dila tidak menjawabnya, dia tampak ngos-ngosan, mungkin habis berlari. “kau menang!” jawabnya kemudian. “maksudmu?” tanyaku yang belum mengerti maksud Dila. “maaf, aku mengirimkan puisi yang kau buat sebagai bukti pendaftaranmu. Hari ini”, kemudian dia berlari setelah emnjawab itu. aku baru menyadari maksdunya. Lalu aku mengejarnya dengan rasa marah, kesal, senang campur aduk kayak rujak.Baiklah kita sambut satu persatu finalis lomba puisi sekolah yang nantinya 3 besar yang akan kita pilih sebagai sang puisitis. Baiklah kita sambut pemenang dengan nomor urut pertama, andaini arya yang akan mengekpresikan puisinya dengan membacanya. setelah MC membacakan daftar nama pemenang lomba puisi tahun ini diatas panggung. Tepuk tangan dari siswa-siswi SMA Pelita terdengar ramai. “kau mau kemana, nomor undianmu 10” ujar Dila ketika melihatku akn pergi meninggalkan nya. “aku mau kekelas Vian bentar” jawabku. Aku melangkah menuju kelas Vian, sedang Dila ternyata tidak mau ditinggal dan dia ikut. Spontan aku berhenti dan Dila yang ada dibelakangku menabrakku, saat kami sampai didepan kelas Evan “ada apa?” Tanya Dila lirih hampir membisik malah. “ada Riri didalam” jawabku singkat. Aku memang melihat Riri didalam kelas Evan, dan mereka hanya berdua. Aku tidak mau melihat semua itu namun Dila menahanku untuk pergi dari tempat itu. “beb, aku tau kok, kenapa kamu kesekolah ini, aku juga ngerti apa yang sedang kamu pikirkan sekarang” Suara Dila memang keras, jadi tanpa menguping aku dan Dilapun pasti akan dengar. Namun kami tidak mendengar jawaban darii Evan, mungkin dia memang diam saja. “aku tahu ini semua ada hubungannya kan dengan Kyky, mantan kamu”. Aku langsung tertegun Mendengar namaku disebut-sebut, Dila tampak serius mendengarkannya. Sedangkan aku malah tak enak perasaanku. “aku tahu kamu ngedeketin dia, dan setelah dia tertarik denganmu kamu akan membuangnya karna dia udah pernah menyakitimu”. Mendengar semua itu seraya hantaman keras memukul wajahku yang kini tampak pucat. Evan tampak melirik keluar dan tanpa kusadari dia melihatku didepan kelasnya. Aku langsung berlari dan saat itulah tangisku meledak. Dila menyusulku. Aku berhenti di belokan kantin, disana sepi tak tampak satupun orang, mungkin karna siswa-siswi sedang sibuk menonton lomba puisi yang diadakan di lapangan basket di tengah sekolah dengan panggung seperti biasa. Disana aku benar-benar menangis, tiba-tiba Dila tampak datang menuju ke arahku dan memeluku. Baiklah kita lanjutkan dengan nomor undian 8. MC tampak membacakan nomer undian berikutnya. “sebentar lagi giliranmu, tapi aku tidak memaksa untuk mengikuti lomba ini kok, dari awal kau memang tidak mau, jadi aku tidak akan memaksamu”. Aku diam saja menatap tanaman kecil yang dipot depan kantin, aku tidak bisa menahan tangisku lagi, tampak Dila yang ada disampingku juga matanya berkaca-kaca. Tepuk tangan meria terdengar dari lomba, sesorang yang mempunyai nomor undi 8 tampak turun dari tangga kecil panggung. Dan kita langjutkan dengan peserta nomor 9, kyky aprilia. “itu giliranmu, tapi aku benar-benar tidak memaksakan, aku hanya ingin sahabatku bahagia” ucap Dila. Tapi aku tidak menjawabnya pikiranku masih tertuju pada Evan, kenapa harus percaya dengan. Bodoh! Makiku dalam hati. Saudara kyky aprilia dimohon keatas panggung, suara itu jelas-jelas kudengar, tapi aku tidak beranjak sedikitpun dari tempat itu aku merasa tidak kuat lagi untuk berbicara, seakan mulut ini membeku dengan isak tangis yang tak tertahan. “biar aku yang bilang pada MC bahwa kau mengundurkan diri” ucap Dila yang kini meninggalkan tempat itu. aku berdiri dan menahan lengan Dila, kemudian Dila menoleh padaku “aku akan membacakan puisi itu!” ucapku, yang kini meninggalkan Dila dengan kebimbangan. Kini aku berdiri di panggung tanpa sepucuk kertas apapun yang berisikan puisi yang akan kubaca seperti yang lainnya. “kau tidak membawa puisimu?” Tanya salah satu MC, kerna aku tidak membawa apapun. “aku sudah menghafalnya!” asalku, padahal akupun baru tahu kalo aku ikut lomba ini.
Ingatkah kau kenangan yang dulu
Benci, kesal, marah yang kau lakukan
Tapi satu yang ku selalu ingat
I love you yang kau utarakan
aku berhenti sejenak, rasanya tak kuat lagi tuk berbicara. Tangisku meledak disana dan suasana semaki hening. Kemudian aku melanjutkannya.
Sembunyi-sembunyi pahitnya bersamamu
Kau berusaha untuk menghapus pahitnya itu
Dan masa itu berlalu hingga lautanmu menghancurkannya
Kau ada untukku, walau tak kuinginkan
Kau datang padaku, walau tak kuharapkan
Dan saat kau pergi, semuanya hampa bagiku
Kehilangan bagaikan serparuh jiwaku menghilang
ditelan kesepian
kini penyesalan bertubi-tubi menghantam
tak kuat aku rasa, seraya hidupku tak ada arti
bagai lautan yang kering rentang tanpa air
waktu berputar dan kini kau kembali dengan senyuman
kau rangkul tanganku, memberikan semangat baru
namun semuanya tak nyataa
ku hanya mengejar harapan kosong
bahakan anginpun tak dapat meraih itu
hingga tubuh ini merasa tak berdaya lagi
wahai sang mantan
aku berhenti, semua tepuk tangan bahkan lebih ramai dari peserta lain terdengar. Pipiku basah dipenuho air mata yang terus mengalir. Tampak Dila pun ikut menangis. Tubuhku lemas, jemariku terasa dingin dan aku berlari pergi dari panggung, semua penonton menatap kepergiaanku. Aku berlari di koridor-koridor sekolah, tak peduli semua penghuni sekolah menatapku, tak peduli kaki ini terasa melambat. “Kyky!” Evan meneriaki namaku, namun aku tak memperdulikannya.Aku tidak tahu kemana aku kan pergi, tapi pantai itu lah yang pertama kali muncul dibenakku. Aku pergi ke pantai yang sering kudatangi bersama Evan. Berharap disana sepi dan dugaanku benar tak seorangpun ada dipantai itu, aku tidak memikirkan kenapa karna aku tak mau memikirkan. Aku memandang sejauh pantai, lombak-ombak seakan bergerak-gerak menerjangi pasir. Bunyi langkah terdengar dibelakangku dan kemudian berhenti. “apa tujuanku kembali kekehidupanku?” tanyaku pada sosok yang datang dibelakangku. Aku tahu dia Evan parfumnya yang kukenal, aku tidak menoleh pdanya.”apa hanya untuk menyakitiku?” tanyaku lagi tapi masih tetap tak menoleh. “apa maksudmu?” Tanya Evan kemudian. “kenapa kau tak puas setelah apa yang ka perbuat untukku, kenapa kau senang melihatku sakit, Evan” teriakku padanya yang kini ku menatapnya, pipiku masih basah. “aku bersumpah, aku tidak pernah berysaha menyakitimu Ky, tidak pernah sekalipun” ucap Evan, dia menatapku tajam. Aku menangis dan tubuhku lemas, hingga akhirnya aku terduduk. “jangan mendekat!” teriakku saat Evan mulai mendekat. “tapi kenapa kau pergi meninggalkanku tanpa pamit, aku pergi tanpa memberitahuku. Kenapa aku harus tahu bahwa kau pergi dari orang lain, kenapa Evan?” tanyaku dengan nada kesal, marah kecewa. Evan diam saja dia tampak belum mengerti, atau memang pura-pura tak mengerti. “kau pergi tanpa memberi kesempatan untuku, kesempatan bahwa aku mulai menyayangimu!” ucapku. Tangisku meledak lagi, aku menundukan kepala agar Evan tidak melihat wajahku. Evan mendekat dan kemudian memelukku. “aku tidak pernah pergi dari kehidupanmu, aku akan tetap disisimu dan asal kau tahu kau akan selalu ada dihatiku sampai kau bilang bahwa kau mencintaiku” ucap Evan yang kini memelukku erat. “aku mencintaimu, sang mantan!” ucapku malu-malu, tapi itulah yang ku inginkan dari dulu, mengatakan bahwa aku mencintainya. Aku tersenyum manja, rasanya penyasalan dulu bbenar-benar lenyap. “jangan katakan aku sang mantan. Karna aku bukanlah mantanmu, aku tetap milikmu dari dulu”, ucapnya halus. “heh tunggu kau bilang aku tak pamit saat aku pergi?” tanyanya kemudian, aku melepaskan pelukaknya namun kita masih terduduk. “kau memang tak pamit” jawabku singkat. “aku memberimu surat, dan menyuruhmu pergi ketaman. Kau tahu betapa lamanya aku menunggu dan ternyata kau tak datang!”. “aku tidak menerima surat apapun” bingungku. “sudahlah, lihat itu” Evan menunjukan dua burung merpati putih yang berduaan di pesisir pantai. Aku dan Evan sama-sama tertawa, Evan menoleh padaku dia mengusapkan air mata dipipiku. Dia menatapku tajam dan akupun melakukan hal yang sama, kemudian dia mencium keningku. “I love you”
-tamat-
by: novia Andini
Pohon Cinta
Dingin, sejuk, embun, basah itulah yang dirasakan Gina pagi ini. Hujan memang belum reda dari tadi subuh, diliriknya jam beker berbentuk hati di meja tempat tidurnya dan menunjukan pukul 07.30, dan bingkai foto disebelahnya bersama sang pacar, Ryan. Gina ingat sekali pertemuan terakhir dengannya, dibawah pohon cinta dimana Ryan pertama kali menyatakan cinta kepada Gina. Dan disanalah Ryan mengatakan perpisahannya, Ryan pergi ke Australia karena ayahnya sakit. Tetapi ia berjanji akan kembali dua tahun lagi ditempat itu juga. Hampir dua tahun akan berlalu, tetapi tiga bulan ini komunikasi mereka putus, setiap hari Ryan menghubungi Gina hanya sekedar menanyakan keadaanya, tetapi kini tidak satupun Ryan menghubunginya. Tidak tersadar setetes air mata Gina jatuh dipelupuk matanya, namun ia langsung mengusapnya. Dia pasti kembali, itu janjinya! batinya. Beberapa menit terdiam dan termenung, dingin hujan semakin redah. Sebuah handpone berwarna silvernya berbunyi. Dilihatnya sebuah sms masuk dari Tia, sahabat baiknya.
From : Tia(+6285642642009)
To : Gina(+6285727222345)
Gin, kamu ke toko sekarang ya?Aku mau ngenalin kamu dengan seseorang.
Belum Gina membalas sms dari Tia, ia hanya pasrah tubuhnya terhempas berdiri dan mandi dan mengikuti apa yang disuruh Tia, yaitu pergi ke toko. Toko bunga “LESTARI” adalah tempat dimana Gina dan Tia bekerja.Setelah pamit dengan kedua orang tuanya, Gina langsung pergi tanpa sarapan. Jam tanganya menunjukan pukul 08.30 setelah Gina sampai di toko, tetapi masih sepi karena toko dibuka pukul 09.00. Beberapa menit Gina menunggu di kursi depan toko, seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit putih seperti bule dengan wanita disampingnya yang tidak asing dimata Gina. Ternyata itu adalah Tia, sahabatnya yang ditunggunya dari tadi, dan seorang pria yang tidak dikenalnya.“hai Gin, maaf ya lama”. katanya dengan nada lembut dan wajah Tia seperti memohon maaf dengan isyarat matanya. Tetapi ekspresi wajah Gina tidak berubah.”… ini yang tadi aku bilang, aku mau ngenalin kamu dengan teman aku” lanjut Tia.“Gio, Gio Hanum”. Gio yang disamping Tia memperkenalkan dirinya dengan Gina.“Gina”. Jawab lirihnya dengan ekspresi wajah yang tidak berubah, sesekali terlihat senyum paksaan diwajahnya.
☺☺☺
Satu minggu menjelang dua tahun kepergian Ryan, Gina hanya bisa memandang fotonya untuk menghilangkan kerinduan yang dirasakan. Akhir-akhir ini hati Gina memang gelisah, Kuliahnyapun terganggu dengan keadaan yang dirasakannya. Satu minggu lagi! dia akan kembali ataukah dia akan pergi dari kehidupanku! Batinnya. Terus menerus Gina memikirkan keadaan Ryan, belum siap dan tidak rela seandainya Ryan meninggalkan dirinya.Sore ini masih terasa panas, Gina yang memang tidak ada kuliah dari siang tadi, hanya tidur-tiduran dikamarnya, hanya memandang langit-langit kamarnya yang penuh dengan hiasan bintang. Dua tahun ditinggal Ryan bagaikan 100 tahun yang harus ia jalankan tanpanya. Sekilas Gina tertidur pulas di ranjangnya. Betapa kaget ketika handponenya berbunyi, dilihatnya sebuah sms masuk dari Gio.
From : Gio(085644551551)
To : Gina(+6285727222345)
Aku akan jemput kamu jam 7 tepat.
Malam ini Gio memang sengaja mengajak Gina makan malam. Jam 7 malam tepat Gio menjemputnya seperti yang dijanjikannya.Restoran Mawar, JakartaGio telah mempersiapkan ini semua, sebuah meja yang dihiasai dengan lilin merah dan hidangan yang telah siap disajikan.
Saat memasuki restoran betapa kaget hati Gina mengetahui bahwa ini semua hanya untuk dirinya.“kamu melakukan ini semua hanya untukku?”Tanya Gina yang kini telah duduk.Gio tidak menjawab apa-apa melainkan menekuk salah satu kakinya dan memegang tangan Gina bagaikannya pangeran yang sedang melamar putri raja.“maaf kalau ini terlalu cepat buat kamu, aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang kini terpendam dihati aku, aku tidak ingin rasa ini terpendam jauh……. Aku sangat sayang denganmu, saat pertama kali kita bertemu ada sedikit rasa yang berbeda yang terpancar dimatamu”. Ungkap Gio yang kini melepaskan tangan Gina”…. aku tidak mau dengan mengatakan ini semua, kamu menghindar dariku. Aku hanya ingin kamu tahu isi hatiku selama ini. Aku juga tidak memaksa kamu untuk menjawabnya” lanjutnya dengan nada yang gugup.Begitu lama Gina menjawab, Gina memang kaget dengan apa yang baru saja diungkapkan Gio.“maaf Gi, aku tidak bisa menjawab itu semua sekarang, aku masih belum bisa membuka hatiku buat orang lain. Masih ada seseorang dihatiku yang masih belum bisa hilang”“siapa dia?” tanyanya penasaran.“Ryan”
☺☺☺
Seminggu telah berakhir, hari inilah janji Ryan akan bertemu dengan Gina di pohon cinta. Sebuah harapan muncul dari hati Gina pagi itu, tetapi sedetik kemudian harapan itu berubah menjadi kegelisahan. Kini genap dua tahun Ryan meninggalkan Gina.Gina bangun, Ryan sudah menunggu dipohon cinta! Batin Gina, ia mengusap air matanya. Dua jam kemudian Gina sudah berada di pohon cinta, ia melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 09.00, hari ini memang sedikit mendung, itu juga yang dirasakan dihati Gina. Pohon cinta! Gumamnya kecil. Pohon cinta hanyalah sebuah pohon tua, yang ada di pusat taman kecil di Jakarta, banyak orang-orang yang sering datang ketaman ini, karena panorama danau dan pohon-pohon menjadikan taman ini begitu nyaman. Jam 15.00, tidak ada orang satupun ditempat itu, hanya Gina yang masih setia menunggu. Kini hujan mulai turun, langit memperlihatkan suasana hati Gina saat ini. Semakin deras hujan turun, tetapi Gina masih tetap bertegu.Dari embun hujan terlihat seorang pria yang datang ke Gina. Gina mengusap matanya agar dapat menembus titik-titik hujan. Itu Ryan, Ryan datang, itu Ryan! batinya. Terlihat senyum yang selama ini hilang menghiasi wajahnya. Seorang pria itu mendekat dan mendekat, sampai Gina dapat melihat dengan jelas wajahnya.“Gio?”. Ucap Gina dengan nada kecewa.“mengapa kamu disini, ayo cepat pulang, semuanya khawatir dengan mu!” kata Gio dengan keras agar terdengar Gina, karena hujan semakin deras.“sedang apa kamu kesini, siapa yang bilang Gina disini, Gina akan tetap disini sampai Ryan datang!”. Jawab Gina, yang menolak untuk pergi.“Ryan tidak akan datang!” teriak Gio dengan menarik tangan Gina yang terlalu kuat dan akhirnya Gina tidak bisa menolaknya.
☺☺☺
Satu minggu telah berlalu dari kejadian itu, Gina hanya bisa merenung dan melamun. Kekecewaan Gina semakin dalam, karena Ryan tidak menepati janjinya. Tapi banyangan Ryan tidak bisa menghilang difikiran Gina. Ingin rasanya ia melupakannya, tapi itu membuat Gina semakin rindu dengannya.Siang ini memang terasa sejuk karena langit sedikit mendung, toko bunga Lestari begitu ramai pengunjung. Bu Astri pemilik toko sedang pergi, Jadi hanya Gina dan Tia yang kini menjaga toko. Gina memang sedikit kurang sehat saat ini, tapi ia memaksakan dirinya untuk bekerja.“Ryan?”serentak Gina kaget ketika salah satu pengunjung mirip dengan wajah Ryan yang sedang memilih bunga. Gina berusaha mengejarnya dalam terdesakan orang-orang yang ramai. Akhirnya Gina sampai di belakang pria itu. keringat basah Gina kini membanjiri wajahnya, dan nafasnya kini tersendak-sendak.“Ryan?”teriaknya lirih ketika pria itu menoleh. Gina hanya terdiam dan ingin rasanya tangannya memegang wajahnya.“maaf, anda siapa ya?”“Ryan?”.kata Gina lagi, mata Gina berkunang-kunang dan wajah Ryan di depan matanyankini seolah-olah menghilang. Dan kemudian semuanya gelap.Sejam lebih Gina belum tersadar dari pingsannya. Bu Astri sudah kembali dari urusannya dan kemudian menyuruh Tia untuk istirahat dan menemani Gina. Kini mata Gina yang semula tertutup perlahan-lahan membuka.“Gina, kamu baik-baik saja kan?” Tanya Tia yang berada disebelahnya dan memberikan segelas air putih untuknya. Dan perlahan Gina meminumnya.“Ryan?, Ryan mana Tia?” Tanya Gina ketika ia ingat apa yang terjadi sebelumnya. Tia hanya memalingkan wajahnya dan tidak menjawab sepatah katapun. “Tia Aku mohon jawab pertanyaanku!” Tanya Gina tetapi tetap tidak ada jawaban”… Tia kamu tahu selama ini aku menunggunya, kamu tahu betapa aku sangat merindukannya, Tia tatap mataku!” kini Gina teriak dengan nada keras, ia menganggap bahwa Tia menutupi sesuatu darinya.“sudahlah Gin, jangan memikirkan itu lagi, lupakan Ryan!” ucap Tia tidak mau kalah, kini ia berdiri dari tempat duduknya dan memandang wajah Gina yang masih pucat “dia hanya pembohong, mana janji yang selama ini dikatakannya, mungkin dia lupa atau memang dilupakan, Gina lihat di depanmu, bagaimana dengan Gio, dia benar-benar sayang denganmu!”“cukup!!” teriak Gina dengan menutup kedua telinganya dengan tangannya. Dan kemudian lari keluar toko. Tapi Tia segera menyusulnya. Belum sempat membuka pintu, seorang pria membuka pintu dari luar, pria itu tidak asing di mata Tia.“Gio?” ucap Tia spontan yang disambut dengan senyum kecilnya. Kemudian dibelakang Gio disusul sesosopria, dan juga tidak asing dimata Tia. Tapi siapa! Batinya. Tia seakan pergi ke masa lalunya untuk mengingat, sebuah kenangan kini dikepalanya. Dan kemudian…“Ryan?”
☺☺☺
Dua hari berlalu dengan cepat, Gina masih sedih dengan ucapan Tia yang lalu. Jam menunjukan pukul 09.00 pagi, hari ini Gina memang sengaja datang di Pohon Cinta. Hati Gina sekarang memang sedang gelisah, tak tersadar air mata Gina jatuh di pipinya.“Ryan, mungkin yang dikatakan Tia memang benar”. Ucapnya dengan nada sesak.”… tidak seharusnya aku disini tengelam dalam kegelapanmu dan menunggu cahaya darimu kembali, Apa aku harus tetap menunggumu yang entah kapan kamu kembali, Apakah seharusnya aku menolak semua keceriaan dari cahaya yang datang untukku, maafkan aku jika aku harus melupakanmu dari hatiku” lanjutnya, “Maafkan aku Ryan!” ucapnya lagi dengan air mata yang membasahi pipinya. Dikamar Gina, tidak terlihat lagi bingkai fotonya dengan Ryan. Gina memang sengaja mengganti fotonya dengan foto keluarga, ia tidak ingin kenangan Ryan tidak bisa terhapus dalam fikirannya walaupun itu begitu sulit baginya. Gina terkaget dari lamunannya, handponenya berbunyi dilihat nama Tia dilayar handponenya.“halo, Gina? Aku senang akhirnya kamu mengangkat telepon dariku, aku….” “sudahlah, apa yang mau kamu katakan?” terang Gina.“Gina maafin aku, kamu sahabatku, kamu yang paling mengerti aku”ucap Tia, tetapi tidak terdengar jawaban apapun dari Gina.”… oke, sudahlah lupakan itu, kalau kamu memang tidak mau memaafkanku, tapi kamu harus ke rumah sakit sekarang, ada sesuatu yang harus kamu lihat” lanjutnya. “Apa yang harus aku lihat, apakah penting buat aku?” Tanya Gina.“kamu harus kesini sekarang, kamu akan tahu semuanya tentang Ryan” jawabnya. Kemudian Tia menutup handponenya. Gina kaget mendengar nama Ryan yang disebut oleh Tia. beberapa menit kemudian Gina beranjak pergi ke rumah sakit yang dikatakan Tia.Gina berlari di koridor rumah sakit yang ditunjukan oleh Tia, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu, ia hanya bisa berlari dan mencari tahu apa yang terjadi. Telihat Tia dan seorang pria yang berdiri diujung lorong, Gina mendekat dan mendekat.“Tia?” ucap Gina saat sampai di depan ruang UGD. Tia menoleh dan kemudian memeluk sahabat Gina. “Gio? ucap Gina lagi saat melihat seorang pria yang duduk disamping Tia. “… apa yang terjadi?” tanyanya.Gio mengatakan semua yang terjadi kepada Ryan, Gina yang mendengar penjelasan Gio hanya bisa mengangis dalam pelukannya Tia, ia merasa bersalah sekali dengan apa yang dilakukannya ketika ingin melupakannya.Beberapa jam kemudian Ryan sudah dipindahkan pada sebuah ruangan pasien, ditemani Tia dan Gina yang masih disana. Tia yang terlihat lelah kini tertidur pulas pada kursi yang memanjang disamping ranjang pasien. Dan Gina masih terbangun untuk menemani Ryan yang belum sadar. Gina masih ingat sekali apa yang dikatakan Gio ketika sampai disini.“Ryan….. Ryan adalah adikku” ucap Gio.“adik? Tanya Gina yang masih belum percaya yang didengarnya.“iya, ia adik aku satu-satunya. Dia memang tinggal di Jakarta tapi dua tahun yang lalu ia harus kembali ke Australia karena ayah kita sakit parah. Ayah ingin sekali melihat Ryan walau untuk terakhir kalinya, tapi Tuhan berkehendak lain, ayah terburu diambilnya sebelum Ryan datang. Setelah itu Ryan harus tetap tinggal disana. Lima bulan yang lalu ia ingin kembali ke Jakarta, ia bilang ia ingin menemui seseorang yang setia menunggunya di Jakarta. Ia memang telah tiba di Jakarta tetapi ia mengalami kecelakaan di hari itu, lukanya cukup parah, kata dokter ia mengalami amnesia. Ia tidak mengingat apapun termasuk dirinya. Aku tidak tahu kalau orang yang ingin ditemui Ryan adalah kamu, maaf jika aku baru mengatakan semua ini kepadaamu dan tadi pagi ia mengalami kecelakan, tetapi aku tidak tahu secara rinci apa yang terjadi” terang Gio pada Gina.
☺☺☺
Dua hari berlalu, pagi ini akhirnya Ryan sadar, tetapi dia masih tetap tidak mengingat apapun. Tante Hesti ibu Ryan baru tiba di Jakarta kemarin malam dan sekarang menangis.Keesokkan harinya, Ryan sudah boleh pulang. Keadaan Ryan memang sudah lebih baik. Ryan juga tidak jarang berbicara dengan Gina walaupun Ryan belum bisa mengingat apapun.Gina memang sengaja mau mengajak Ryan ke pohon cinta, ia ingin kembali dimasa lalunya. Dan beberapa menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Mereka duduk di sebuah kursi di bawah pohon, beberapa menit lamanya mereka saling diam. Kemudian Gina mencoba untuk menjadikan suasanya santai dengan memulai pembicaraan.“baguskan? Danau….” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Ryan menarik tangan Gina, dan mereka saling menatap mata.“apa kamu benar pacarku?”ucapnya yang membuat Gina semakin kaget dengan tingkah laku Ryan, Gina hanya terdiam”… Gio yang bilang, apa benar yang dikatakan Gio?” tanyanya lagi.“yah” jawab Gina singkat, yang kini meneteskan air matanya.“dipohon ini, kita biasa bersama?kamu yang selalu menungguku disini”Gina tidak sanggup untuk menjawabnya lagi pertanyaan Ryan.“Gina, jawab aku!” Tanya Ryan lagi. Kini tingkah laku Ryan mulai aneh ia menundukan kepalanya dan berusaha diri untuk mengingat semunya.”…. kenapa? Kenapa? Aku tidak bisa mengingat semuanya! Akrrkkkk! Teriak Ryan yang kini memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.“Ryan cukup! Cukup Ryan, aku mohon!” Gina yang merasa panik akan hal ini mencoba untuk menghentikann Ryan.Teriakan Ryan semakin keras, ia merasakan sakit pada kepalanya. Kini keringat basah membasahi tubuhnya. Gina semakin panik, ia mencoba meminta tolong tetapi tidak seorangpun terlihat di sekitar. Berapa lama itu terjadi kemudian terdengar suara tawa dari mulut Ryan. Gina semakin binggung apa yang sedang terjadi.“Ryan” ucap Gina yang kini tanganya mencoba untuk merahi wajah Ryan.“Haahaaa… Gina?, maafin aku?” ucap Ryan kemudian. Tapi Gina masih belum mengerti.“hay Gina!’ terdengar suara wanita dari arah belakang Gina. Kemudian Gina menoleh datangnya suara itu.“Tia? Gio? kalian?” ucap Gina ketika melihat sumber datangnya suara itu.“Gina, maaf? Sebenarnya Ryan tidak pernah mengalami kecelakan ataupun amnesia. Selama ini kita pura-pura untuk mengujimu” terang Tia. Terlihat Ryan semakin tertawa mendengar penjelasan dari Tia.“jadi kalian membohongi aku?” Tanya Gina yang masih tidak percaya”…. Kalian jahat sekalitdenganku!”Ryan berhenti tertawa kini kedua tangannya meraih kedua pipi Gina yang basah.“Ryan minta maaf ya? Terimakasih sudah setia menunggu cintaku. Aku janji aku tidak akan meninggalkanmu lagi”“aku tidak mau, kalian semua jahat!” sentak Gina yang kini memukuli dada Ryan yang sebenarnya tidak keras.Ryan hanya tersenyum dengan tingkah laku Gina yang mulai kesal, Ryan tahu bahwa Gina tidak serius.“maaf ya, dua tahun yang lalu aku memang pergi ke Australia karena ayah sakit, dan setelah itu aku harus mengurus semua data-data perusahaan ayah yang ada di Australia. Kemudian Geo memberikan ide untuk menguji kesetiaanmu” ucapnya.”…Geo adalah teman baikku sejak kecil, ia tinggal di Australia makanya aku tidak pernah cerita ini kepada kamu, maaf ya”lanjutnya lagi.Gina memang kesal dengan keadaan ini, Tetapi hati Gina tidak bisa berbohong bahwa hari ini adalah hari yang paling indah baginya.Cahaya matahari sore tampak menyinari mereka, dan membuat suasanya tidak ingin ditinggalkan. Senyum Gina seraya kembali lagi.
Gina sadar tidak selamanya cinta itu indah seperti yang kita harapkan. Jurang cinta akan senantiasa menanti, tanpa itu semua cinta tidak akan berarti. Dan selama cinta itu kita peggang kita akan selalu menemukan cahaya yang kita harapkan.
SELESAI
From : Tia(+6285642642009)
To : Gina(+6285727222345)
Gin, kamu ke toko sekarang ya?Aku mau ngenalin kamu dengan seseorang.
Belum Gina membalas sms dari Tia, ia hanya pasrah tubuhnya terhempas berdiri dan mandi dan mengikuti apa yang disuruh Tia, yaitu pergi ke toko. Toko bunga “LESTARI” adalah tempat dimana Gina dan Tia bekerja.Setelah pamit dengan kedua orang tuanya, Gina langsung pergi tanpa sarapan. Jam tanganya menunjukan pukul 08.30 setelah Gina sampai di toko, tetapi masih sepi karena toko dibuka pukul 09.00. Beberapa menit Gina menunggu di kursi depan toko, seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit putih seperti bule dengan wanita disampingnya yang tidak asing dimata Gina. Ternyata itu adalah Tia, sahabatnya yang ditunggunya dari tadi, dan seorang pria yang tidak dikenalnya.“hai Gin, maaf ya lama”. katanya dengan nada lembut dan wajah Tia seperti memohon maaf dengan isyarat matanya. Tetapi ekspresi wajah Gina tidak berubah.”… ini yang tadi aku bilang, aku mau ngenalin kamu dengan teman aku” lanjut Tia.“Gio, Gio Hanum”. Gio yang disamping Tia memperkenalkan dirinya dengan Gina.“Gina”. Jawab lirihnya dengan ekspresi wajah yang tidak berubah, sesekali terlihat senyum paksaan diwajahnya.
☺☺☺
Satu minggu menjelang dua tahun kepergian Ryan, Gina hanya bisa memandang fotonya untuk menghilangkan kerinduan yang dirasakan. Akhir-akhir ini hati Gina memang gelisah, Kuliahnyapun terganggu dengan keadaan yang dirasakannya. Satu minggu lagi! dia akan kembali ataukah dia akan pergi dari kehidupanku! Batinnya. Terus menerus Gina memikirkan keadaan Ryan, belum siap dan tidak rela seandainya Ryan meninggalkan dirinya.Sore ini masih terasa panas, Gina yang memang tidak ada kuliah dari siang tadi, hanya tidur-tiduran dikamarnya, hanya memandang langit-langit kamarnya yang penuh dengan hiasan bintang. Dua tahun ditinggal Ryan bagaikan 100 tahun yang harus ia jalankan tanpanya. Sekilas Gina tertidur pulas di ranjangnya. Betapa kaget ketika handponenya berbunyi, dilihatnya sebuah sms masuk dari Gio.
From : Gio(085644551551)
To : Gina(+6285727222345)
Aku akan jemput kamu jam 7 tepat.
Malam ini Gio memang sengaja mengajak Gina makan malam. Jam 7 malam tepat Gio menjemputnya seperti yang dijanjikannya.Restoran Mawar, JakartaGio telah mempersiapkan ini semua, sebuah meja yang dihiasai dengan lilin merah dan hidangan yang telah siap disajikan.
Saat memasuki restoran betapa kaget hati Gina mengetahui bahwa ini semua hanya untuk dirinya.“kamu melakukan ini semua hanya untukku?”Tanya Gina yang kini telah duduk.Gio tidak menjawab apa-apa melainkan menekuk salah satu kakinya dan memegang tangan Gina bagaikannya pangeran yang sedang melamar putri raja.“maaf kalau ini terlalu cepat buat kamu, aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang kini terpendam dihati aku, aku tidak ingin rasa ini terpendam jauh……. Aku sangat sayang denganmu, saat pertama kali kita bertemu ada sedikit rasa yang berbeda yang terpancar dimatamu”. Ungkap Gio yang kini melepaskan tangan Gina”…. aku tidak mau dengan mengatakan ini semua, kamu menghindar dariku. Aku hanya ingin kamu tahu isi hatiku selama ini. Aku juga tidak memaksa kamu untuk menjawabnya” lanjutnya dengan nada yang gugup.Begitu lama Gina menjawab, Gina memang kaget dengan apa yang baru saja diungkapkan Gio.“maaf Gi, aku tidak bisa menjawab itu semua sekarang, aku masih belum bisa membuka hatiku buat orang lain. Masih ada seseorang dihatiku yang masih belum bisa hilang”“siapa dia?” tanyanya penasaran.“Ryan”
☺☺☺
Seminggu telah berakhir, hari inilah janji Ryan akan bertemu dengan Gina di pohon cinta. Sebuah harapan muncul dari hati Gina pagi itu, tetapi sedetik kemudian harapan itu berubah menjadi kegelisahan. Kini genap dua tahun Ryan meninggalkan Gina.Gina bangun, Ryan sudah menunggu dipohon cinta! Batin Gina, ia mengusap air matanya. Dua jam kemudian Gina sudah berada di pohon cinta, ia melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 09.00, hari ini memang sedikit mendung, itu juga yang dirasakan dihati Gina. Pohon cinta! Gumamnya kecil. Pohon cinta hanyalah sebuah pohon tua, yang ada di pusat taman kecil di Jakarta, banyak orang-orang yang sering datang ketaman ini, karena panorama danau dan pohon-pohon menjadikan taman ini begitu nyaman. Jam 15.00, tidak ada orang satupun ditempat itu, hanya Gina yang masih setia menunggu. Kini hujan mulai turun, langit memperlihatkan suasana hati Gina saat ini. Semakin deras hujan turun, tetapi Gina masih tetap bertegu.Dari embun hujan terlihat seorang pria yang datang ke Gina. Gina mengusap matanya agar dapat menembus titik-titik hujan. Itu Ryan, Ryan datang, itu Ryan! batinya. Terlihat senyum yang selama ini hilang menghiasi wajahnya. Seorang pria itu mendekat dan mendekat, sampai Gina dapat melihat dengan jelas wajahnya.“Gio?”. Ucap Gina dengan nada kecewa.“mengapa kamu disini, ayo cepat pulang, semuanya khawatir dengan mu!” kata Gio dengan keras agar terdengar Gina, karena hujan semakin deras.“sedang apa kamu kesini, siapa yang bilang Gina disini, Gina akan tetap disini sampai Ryan datang!”. Jawab Gina, yang menolak untuk pergi.“Ryan tidak akan datang!” teriak Gio dengan menarik tangan Gina yang terlalu kuat dan akhirnya Gina tidak bisa menolaknya.
☺☺☺
Satu minggu telah berlalu dari kejadian itu, Gina hanya bisa merenung dan melamun. Kekecewaan Gina semakin dalam, karena Ryan tidak menepati janjinya. Tapi banyangan Ryan tidak bisa menghilang difikiran Gina. Ingin rasanya ia melupakannya, tapi itu membuat Gina semakin rindu dengannya.Siang ini memang terasa sejuk karena langit sedikit mendung, toko bunga Lestari begitu ramai pengunjung. Bu Astri pemilik toko sedang pergi, Jadi hanya Gina dan Tia yang kini menjaga toko. Gina memang sedikit kurang sehat saat ini, tapi ia memaksakan dirinya untuk bekerja.“Ryan?”serentak Gina kaget ketika salah satu pengunjung mirip dengan wajah Ryan yang sedang memilih bunga. Gina berusaha mengejarnya dalam terdesakan orang-orang yang ramai. Akhirnya Gina sampai di belakang pria itu. keringat basah Gina kini membanjiri wajahnya, dan nafasnya kini tersendak-sendak.“Ryan?”teriaknya lirih ketika pria itu menoleh. Gina hanya terdiam dan ingin rasanya tangannya memegang wajahnya.“maaf, anda siapa ya?”“Ryan?”.kata Gina lagi, mata Gina berkunang-kunang dan wajah Ryan di depan matanyankini seolah-olah menghilang. Dan kemudian semuanya gelap.Sejam lebih Gina belum tersadar dari pingsannya. Bu Astri sudah kembali dari urusannya dan kemudian menyuruh Tia untuk istirahat dan menemani Gina. Kini mata Gina yang semula tertutup perlahan-lahan membuka.“Gina, kamu baik-baik saja kan?” Tanya Tia yang berada disebelahnya dan memberikan segelas air putih untuknya. Dan perlahan Gina meminumnya.“Ryan?, Ryan mana Tia?” Tanya Gina ketika ia ingat apa yang terjadi sebelumnya. Tia hanya memalingkan wajahnya dan tidak menjawab sepatah katapun. “Tia Aku mohon jawab pertanyaanku!” Tanya Gina tetapi tetap tidak ada jawaban”… Tia kamu tahu selama ini aku menunggunya, kamu tahu betapa aku sangat merindukannya, Tia tatap mataku!” kini Gina teriak dengan nada keras, ia menganggap bahwa Tia menutupi sesuatu darinya.“sudahlah Gin, jangan memikirkan itu lagi, lupakan Ryan!” ucap Tia tidak mau kalah, kini ia berdiri dari tempat duduknya dan memandang wajah Gina yang masih pucat “dia hanya pembohong, mana janji yang selama ini dikatakannya, mungkin dia lupa atau memang dilupakan, Gina lihat di depanmu, bagaimana dengan Gio, dia benar-benar sayang denganmu!”“cukup!!” teriak Gina dengan menutup kedua telinganya dengan tangannya. Dan kemudian lari keluar toko. Tapi Tia segera menyusulnya. Belum sempat membuka pintu, seorang pria membuka pintu dari luar, pria itu tidak asing di mata Tia.“Gio?” ucap Tia spontan yang disambut dengan senyum kecilnya. Kemudian dibelakang Gio disusul sesosopria, dan juga tidak asing dimata Tia. Tapi siapa! Batinya. Tia seakan pergi ke masa lalunya untuk mengingat, sebuah kenangan kini dikepalanya. Dan kemudian…“Ryan?”
☺☺☺
Dua hari berlalu dengan cepat, Gina masih sedih dengan ucapan Tia yang lalu. Jam menunjukan pukul 09.00 pagi, hari ini Gina memang sengaja datang di Pohon Cinta. Hati Gina sekarang memang sedang gelisah, tak tersadar air mata Gina jatuh di pipinya.“Ryan, mungkin yang dikatakan Tia memang benar”. Ucapnya dengan nada sesak.”… tidak seharusnya aku disini tengelam dalam kegelapanmu dan menunggu cahaya darimu kembali, Apa aku harus tetap menunggumu yang entah kapan kamu kembali, Apakah seharusnya aku menolak semua keceriaan dari cahaya yang datang untukku, maafkan aku jika aku harus melupakanmu dari hatiku” lanjutnya, “Maafkan aku Ryan!” ucapnya lagi dengan air mata yang membasahi pipinya. Dikamar Gina, tidak terlihat lagi bingkai fotonya dengan Ryan. Gina memang sengaja mengganti fotonya dengan foto keluarga, ia tidak ingin kenangan Ryan tidak bisa terhapus dalam fikirannya walaupun itu begitu sulit baginya. Gina terkaget dari lamunannya, handponenya berbunyi dilihat nama Tia dilayar handponenya.“halo, Gina? Aku senang akhirnya kamu mengangkat telepon dariku, aku….” “sudahlah, apa yang mau kamu katakan?” terang Gina.“Gina maafin aku, kamu sahabatku, kamu yang paling mengerti aku”ucap Tia, tetapi tidak terdengar jawaban apapun dari Gina.”… oke, sudahlah lupakan itu, kalau kamu memang tidak mau memaafkanku, tapi kamu harus ke rumah sakit sekarang, ada sesuatu yang harus kamu lihat” lanjutnya. “Apa yang harus aku lihat, apakah penting buat aku?” Tanya Gina.“kamu harus kesini sekarang, kamu akan tahu semuanya tentang Ryan” jawabnya. Kemudian Tia menutup handponenya. Gina kaget mendengar nama Ryan yang disebut oleh Tia. beberapa menit kemudian Gina beranjak pergi ke rumah sakit yang dikatakan Tia.Gina berlari di koridor rumah sakit yang ditunjukan oleh Tia, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu, ia hanya bisa berlari dan mencari tahu apa yang terjadi. Telihat Tia dan seorang pria yang berdiri diujung lorong, Gina mendekat dan mendekat.“Tia?” ucap Gina saat sampai di depan ruang UGD. Tia menoleh dan kemudian memeluk sahabat Gina. “Gio? ucap Gina lagi saat melihat seorang pria yang duduk disamping Tia. “… apa yang terjadi?” tanyanya.Gio mengatakan semua yang terjadi kepada Ryan, Gina yang mendengar penjelasan Gio hanya bisa mengangis dalam pelukannya Tia, ia merasa bersalah sekali dengan apa yang dilakukannya ketika ingin melupakannya.Beberapa jam kemudian Ryan sudah dipindahkan pada sebuah ruangan pasien, ditemani Tia dan Gina yang masih disana. Tia yang terlihat lelah kini tertidur pulas pada kursi yang memanjang disamping ranjang pasien. Dan Gina masih terbangun untuk menemani Ryan yang belum sadar. Gina masih ingat sekali apa yang dikatakan Gio ketika sampai disini.“Ryan….. Ryan adalah adikku” ucap Gio.“adik? Tanya Gina yang masih belum percaya yang didengarnya.“iya, ia adik aku satu-satunya. Dia memang tinggal di Jakarta tapi dua tahun yang lalu ia harus kembali ke Australia karena ayah kita sakit parah. Ayah ingin sekali melihat Ryan walau untuk terakhir kalinya, tapi Tuhan berkehendak lain, ayah terburu diambilnya sebelum Ryan datang. Setelah itu Ryan harus tetap tinggal disana. Lima bulan yang lalu ia ingin kembali ke Jakarta, ia bilang ia ingin menemui seseorang yang setia menunggunya di Jakarta. Ia memang telah tiba di Jakarta tetapi ia mengalami kecelakaan di hari itu, lukanya cukup parah, kata dokter ia mengalami amnesia. Ia tidak mengingat apapun termasuk dirinya. Aku tidak tahu kalau orang yang ingin ditemui Ryan adalah kamu, maaf jika aku baru mengatakan semua ini kepadaamu dan tadi pagi ia mengalami kecelakan, tetapi aku tidak tahu secara rinci apa yang terjadi” terang Gio pada Gina.
☺☺☺
Dua hari berlalu, pagi ini akhirnya Ryan sadar, tetapi dia masih tetap tidak mengingat apapun. Tante Hesti ibu Ryan baru tiba di Jakarta kemarin malam dan sekarang menangis.Keesokkan harinya, Ryan sudah boleh pulang. Keadaan Ryan memang sudah lebih baik. Ryan juga tidak jarang berbicara dengan Gina walaupun Ryan belum bisa mengingat apapun.Gina memang sengaja mau mengajak Ryan ke pohon cinta, ia ingin kembali dimasa lalunya. Dan beberapa menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Mereka duduk di sebuah kursi di bawah pohon, beberapa menit lamanya mereka saling diam. Kemudian Gina mencoba untuk menjadikan suasanya santai dengan memulai pembicaraan.“baguskan? Danau….” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Ryan menarik tangan Gina, dan mereka saling menatap mata.“apa kamu benar pacarku?”ucapnya yang membuat Gina semakin kaget dengan tingkah laku Ryan, Gina hanya terdiam”… Gio yang bilang, apa benar yang dikatakan Gio?” tanyanya lagi.“yah” jawab Gina singkat, yang kini meneteskan air matanya.“dipohon ini, kita biasa bersama?kamu yang selalu menungguku disini”Gina tidak sanggup untuk menjawabnya lagi pertanyaan Ryan.“Gina, jawab aku!” Tanya Ryan lagi. Kini tingkah laku Ryan mulai aneh ia menundukan kepalanya dan berusaha diri untuk mengingat semunya.”…. kenapa? Kenapa? Aku tidak bisa mengingat semuanya! Akrrkkkk! Teriak Ryan yang kini memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.“Ryan cukup! Cukup Ryan, aku mohon!” Gina yang merasa panik akan hal ini mencoba untuk menghentikann Ryan.Teriakan Ryan semakin keras, ia merasakan sakit pada kepalanya. Kini keringat basah membasahi tubuhnya. Gina semakin panik, ia mencoba meminta tolong tetapi tidak seorangpun terlihat di sekitar. Berapa lama itu terjadi kemudian terdengar suara tawa dari mulut Ryan. Gina semakin binggung apa yang sedang terjadi.“Ryan” ucap Gina yang kini tanganya mencoba untuk merahi wajah Ryan.“Haahaaa… Gina?, maafin aku?” ucap Ryan kemudian. Tapi Gina masih belum mengerti.“hay Gina!’ terdengar suara wanita dari arah belakang Gina. Kemudian Gina menoleh datangnya suara itu.“Tia? Gio? kalian?” ucap Gina ketika melihat sumber datangnya suara itu.“Gina, maaf? Sebenarnya Ryan tidak pernah mengalami kecelakan ataupun amnesia. Selama ini kita pura-pura untuk mengujimu” terang Tia. Terlihat Ryan semakin tertawa mendengar penjelasan dari Tia.“jadi kalian membohongi aku?” Tanya Gina yang masih tidak percaya”…. Kalian jahat sekalitdenganku!”Ryan berhenti tertawa kini kedua tangannya meraih kedua pipi Gina yang basah.“Ryan minta maaf ya? Terimakasih sudah setia menunggu cintaku. Aku janji aku tidak akan meninggalkanmu lagi”“aku tidak mau, kalian semua jahat!” sentak Gina yang kini memukuli dada Ryan yang sebenarnya tidak keras.Ryan hanya tersenyum dengan tingkah laku Gina yang mulai kesal, Ryan tahu bahwa Gina tidak serius.“maaf ya, dua tahun yang lalu aku memang pergi ke Australia karena ayah sakit, dan setelah itu aku harus mengurus semua data-data perusahaan ayah yang ada di Australia. Kemudian Geo memberikan ide untuk menguji kesetiaanmu” ucapnya.”…Geo adalah teman baikku sejak kecil, ia tinggal di Australia makanya aku tidak pernah cerita ini kepada kamu, maaf ya”lanjutnya lagi.Gina memang kesal dengan keadaan ini, Tetapi hati Gina tidak bisa berbohong bahwa hari ini adalah hari yang paling indah baginya.Cahaya matahari sore tampak menyinari mereka, dan membuat suasanya tidak ingin ditinggalkan. Senyum Gina seraya kembali lagi.
Gina sadar tidak selamanya cinta itu indah seperti yang kita harapkan. Jurang cinta akan senantiasa menanti, tanpa itu semua cinta tidak akan berarti. Dan selama cinta itu kita peggang kita akan selalu menemukan cahaya yang kita harapkan.
SELESAI
Langganan:
Postingan (Atom)