Senin, 16 Agustus 2010

Cinta itu kembali menyapa

Ketika cinta kembali menyapa
Ku terjatuh tiada daya
Lisanku tak mampu bicara
Pandanganku tak mampu menyapa

Kini cinta itu kembali bersemi
Menghiasi hati yang pernah tersakiti
Menerangi mata yang telah buta
Menyapa jiwa yang pernah terluka

Kini cinta itu kembali tumbuh
Mengangkat tubuhku yang rapuh
Menghibur mata yang menangis
Menghibur jiwa yang terkikis

Kini cinta itu kembali datang
Menenangkan pikirang yang bimbang
Menyapa hati yang sedih
Menyapa jiwa yang merintih

Bimbang

Hatiku kian hari kian tak menentu
Bimbang, Sepi karna terus menunggu
Entah sampai kapan ku kan bertahan
Terus kupendam ataukah harus terungkapkan

Walau semua harus kulalui dengan tangisan
Walau semua harus kulalui dengan kesedihan
Walau aku ahrus teteskan air mata
Walau hatiku harus merasa terluka

Tapi ku yakin, di sana masih ada harapan
Harapan tuk gapai kebahagiaan
Ku yakin, masih tersisa sedikit cita
Tuk bisa hidup dan berjalan bersama

Ku Memang Tak Sempurna

Ku memang tak seperti mentari
Yang begitu terang dan menyinari
Tapi ku punya lubuk hati
Yang sanggup tuk mencintai

Ku memang tak seperti rembulan
Menerangi malam dengan sinarnya
Tapi ku punya perasaan
Tuk bisa ungkapkan cinta

Ke memang tak seperti bintang
Menghiasi gelapnya malam
Ku memang tek sempurna
Karena kesempurnaan hanyalah milik-Nya

Tapi ku punya secercah harapan
kan bisa berguna bagi semua insan
Menerangi mereka dengan cinta
Menghiasi alam dengan rasa

Cinta Yang Tak Pasti

mungkin aku terlalu bodoh untuk mengerti
mungkin aku tak sengaja jg menyakiti
andai aku tau isi hatimu
andai kesempatan itu datang lagi padaku

sekarang mustahil bagiku
bahkan menyentuh bayangmu, aku tak mampu
sekarang aku terpuruk dalam jurang sesalku
dan cinta ni jadi sesak dalam dadaku
aku tau cinta ini sudah tak laku

tapi biarkan cinta ini aku miliki
biarkan cinta ni menjadi bebanku
aku tak peduli
meski menghambat jalanku
aku tau mencintaimu adalah tak pasti

oleh: Agus eko Ariwibowo

Rabu, 11 Agustus 2010

Sebuah Kisah Untuknya

Aku tak tahu mengapa kami bisa sedekat ini, yang ku tahu hanyalah sekarang kami tak bisa sedekat itu. Semuanya berawal ketika Icha datang. Awalnya aku ( Ara) dan Rama hanyalah berteman biasa. Hingga suatu hari kami saing menyadari bahwa ada sesuatu di balik tatapan mata kami, yang entah mengapa kami menyebutnya "cinta". Lalu kami memutuskan utuk menjalin sebuah hubungan istimewa yang sering di sebut pacaran. Awalnya kami begitu bahagia dengan sejuta kata manis, memori indah, bahkan tak ada pertengkaran. Hingga dia mencoba mengenal dunia malam dan bertemu dengan sosok Icha. Masih teringat dalam memoriku ketika suatu malam aku tak sengaja bertemu dengan mereka. Malam itu entah mengapa aku sangat merindukan Rama. Mungkin itu karena selama beberapa minggu dia tak pernah menghubungiku. Bahkan ketika bertemy di sekolah hanya saling menyapa. Aku mengetuk pintu rumah Rama, dan tante Heni (mama Rama) yang membuka pintu."Halo Ara sayang." sapa beliau,"Malam tante." aku membalas sapaan beliau,"Nyari Rama ya? Itu di atas sama temen-temennya. Naik aj y, tante lagi sibuk buat kue untuk arisan besok""Iya tante. Permisi. " aku melangkah masuk dan bergerak menuju kamar Rama yang terletak di lantai atas.Sayup-sayup aku mendengar tawa Rama, tawa yang begitu kurindukan. Aku hendak berbelok ke arah suara itu tapi tertahan oleh suara seorang cewek yang asing bagiku."Sayang, besok temenin aku nonton yuk." suara itu terdengar sangat manja dan selanjutnya yang kudengar hanyalah jawaban pendek yang sangat kuyakini itu suara milik Rama."Ram, kamu mau sampe kapan bo'ongin Ara"? itu suara Revi,"Iyah sayang, aku bosen cuma jadi yang kedua. Putusin si cewek bego itu kenapa." dan itu suara cewek tadi."Guys, ngertiin aku donk. Aku gak mungkin mutusin Ara gitu aja tanpa alesan. A........" Hanya itu yang kuingat, karena aku langsung pergi begitu saja. Esoknya, tepat sebelum aku berangkat sekolah ayah berkata padaku bahwa kami sekeluarga akan pindah ke Jakarta. Dan tanpa babibu, aku langsung mengiyakan.Dulu, aku pikir dengan pindahnya kami aku bisa melupakan Rama. Tapi ternyata tidak. Aku pindah tanpa memberitahunya dan tanpa kata. Tapi akhirnya, teman-teman baruku membuatku bisa melupakannya. Bahkan aku sudah menemukan penggantinya di sini, yang tentunya lebih baik. Tapi, ketika aku emrayakan ulang tahunku yang ke 17, teman-teman Rama entah mengapa datang dan memberiku sepucuk surat.
Aku memang bodoh,menyakitimu dengan tawaku,melukaimu dengan senyumku,bahkan perlahan menghancurkan hatimu di atas bahagiaku, Hanya itu yang tertulis diatas kertas putih itu."Rama nyesel banget uda nyakitin kamu Ra. Plese maafin dia Ra. Begitu tahu kamu udah tahu kalo dia selingkuh, dia tertekan banget.""Mungkin Rama salah banget Ra, tapi tolong maafin dia,,..............""Iya Ra, maafin Rama, biar dia tenang di sana""Apa?"aku tercengang mendengarnya,"Rama OD, Ra"

Malaikat Bersayap Satu

Semua bermula saat aku bertemu dengannya di kebun binatang beberapa tahun yang lalu. Pertemuan yang sangat tidak terduga dan sama sekali tidak romantis namun menjadi titik balikku dalam urusan cinta. Aku sedang berjalan-jalan di kebun binatang dengan para sahabatku dan tiba-tiba ada seorang cowok berpenampilan rapi mendekatiku.
“Hai, aku Randy,“ kata cowok itu sambil mengulurkan tangannya. Aku tersenyum kikuk dan menyambut tangannya. “Lian.”
“Kami adalah mahasiswa fakultas kedokteran hewan yang sedang mengadakan penelitian,” kata kak Randy. Aku dan kedua temanku hanya mengangguk-angguk. Benar kan, tidak romantis? Tidak seperti Dina yang bertemu dengan pangerannya saat dia sedang tampil di sebuah kafe paling romantis di kota ini. Atau Niske yang ditembak di tengah seratus lilin berbentuk hati yang menyala. Pertemuan itu berlangsung singkat namun entah mengapa aku mulai merasakan ada sesuatu yang lain.

+++

Aku tersenyum saat menerima sebuah SMS dari seseorang. SMS pertama dari kak Randy setelah kami bertemu siang tadi. Aku senang sekali saat mengetahui kak Randy sendiri yang meminta nomor HPku, bukan teman-temanku yang memberitahukannya.
Malam ini aku tidak bisa tidur. Entah mengapa perasaanku berbunga-bunga dan jantungku berdebar tidak keruan. Bayangan kak Randy tidak dapat kuhilangkan dari otakku. Kalau saja otakku adalah perangkat komputer, aku sudah meng-klik tombol kanan mouse dan merefreshnya. Kalau perlu mendelete beberapa file yang mengganggu.
Aku berbaring di tempat tidur dan meraih bantal gulingku. Berkali-kali mengubah posisi tidak membuatku mengantuk, tetapi mataku semakin terbuka lebar. Aku merutuk dalam hati. Mengapa seorang Randy dapat membuatku insomnia begini? Batinku heran. Aku bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Dengan sekali tekan aku kembali menghidupkan lampu kamarku.
Jujur, aku belum pernah merasakan jatuh cinta bahkan pacaran meskipun usiaku telah menginjak 18 tahun. Misiku yang kuat untuk menyelesaikan pendidikan dan membuat kedua orang tuaku bangga adalah pondasiku dalam menghadapi virus yang bernama cinta. Flashback dua bulan yang lalu, ada seorang cowok yang menyukaiku, namun dia memutuskan untuk mundur karena aku lebih memilih les bahasa Inggris daripada makan es krim di restoran mewah.
Sebenarnya aku nggak jelek-jelek amat. Tubuhku tergolong mungil dengan pipi yang sedikit tembem namun berlesung ketika aku tersenyum. Kata teman-teman senyumku manis. Aku juga anak yang mudah bergaul dengan siapa saja. Aku tidak gendut, apalagi obesitas. Banyak cowok yang sebenarnya naksir padaku. Itu yang ku ketahui dari kedua sahabatku, Niske dan Dina.
Tanpa kusadari bibirku melengkungkan senyum. Benar juga apa kata Niske dan Dina. Saat istirahat sekolah, banyak cowok yang datang ke kelasku sekedar untuk mengobrol dan menarik perhatianku. Sebenarnya mereka hanya buang-buang waktu saja. Aku tidak pernah tertarik untuk berpacaran sebelum masa sekolahku usai. Kugali lagi memoriku saat kedua sahabatku menasehati, “Umur 18 tahun adalah saat yang tepat untuk memiliki pacar.”
Aku tertawa geli. Pacar bisa dicari, tetapi kebanggaan orang tua sangat sulit didapatkan. Lagipula aku telah berjanji kepada almarhum bundaku untuk selalu menjadi kebanggaan orang tua.
Aku berbaring kembali. Bunda… seandainya kau masih ada disini, batinku sambil mendesah. Kau bisa membantuku mengatasi masalah ini. Bunda! Anakmu ini jatuh cinta!

+++

Hari ini adalah hari yang indah untukku karena sebuah tim dari universitas akan datang dan membantu kami melakukan penelitian. Pembina tim ekstrakurikuler karya ilmiah remaja kami yang mengusulkan agar pihak sekolah mendatangkan pembimbing yang sesuai dengan cakupan penelitian kami. Dan yang paling menyenangkan adalah saat aku mengetahui bahwa kak Randy yang mengetuai tim tersebut.
Semua anak bertepuk riuh termasuk aku dan kedua sahabatku saat pembina ekstrakurikuler kami menyambut tim yang baru saja datang. Namun, tidak ada satupun yang berkomentar saat Kak Randy membuka acara dengan memperkenalkan diri. “Saya Randy Pranata Setiawan. Salam kenal.”
Pandanganku terpaku pada sosok yang tengah berdiri di depan ruangan. Tubuhnya tegap, sikapnya sopan dan tampak ramah kepada semua orang. Gaya bicaranya mampu membuat semua anak memperhatikannya. Wajahnya bersih dan sangat manis jika tersenyum. Dia seperti malaikat bersayap. Saat itu aku mati-matian berharap belum ada orang yang menjadi sayap keduanya.
Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dan mendesah, namun beberapa saat kemudian wajahku berubah menjadi ekspresi wajah meratap. Perasaanku menjadi begitu gembira. Tampaknya otakku mulai terserang virus cinta.
Bunda… kenapa cowok itu ganteng sekali?

+++

Malam harinya…
“Silakan masuk, Kak,” kataku sopan. Kak Randy tersenyum dan mengangguk. Malam ini kak Randy datang ke rumahku setelah sore tadi dia menelepon untuk meminta ijinku. Aku menyambutnya kikuk, menyilakan kak Randy duduk kemudian berlari ke belakang untuk membuat minuman. Aku serasa ingin meledak saat itu.
Aku senyum-senyum sendiri saat membuat minuman. Bunda, cowok itu datang, batinku. Ditemani oleh pembantuku, Mbok Kar, aku kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas minuman dan beberapa potong kue brownies.
“Well, aku datang karena tertarik dengan proposal penelitian yang tadi kau presentasikan di forum. Aku ingin mengajukan proposal penelitianmu ke dekan fakultas untuk disertakan dalam lomba penelitian tingkat nasional bidang IPA kategori umum. Kuharap… kalau proposalnya disetujui… kau mau bergabung dengan kami,” kata kak Randy dengan senyum mengembang. Aku meleleh. Dadaku berdetak kencang. Bunda… lihatlah, betapa indah malaikat yang satu ini. Tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk. Kak Randy mengucapkan terimakasih, menjabat tanganku, kemudian berkata, “Aku sangat berharap kau bisa menjadi anggota tim.”
Aku tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat mobil kak Randy mulai berjalan. Di tanganku terdapat sebatang cokelat pemberiannya. Hey, dari mana dia tahu kalau aku menyukai cokelat? Aku meletakkan cokelat itu di meja belajarku dan kucari tanggal kadaluwarsanya. 30 Januari 2012. Ha! Berarti aku dapat menyimpan cokelat ini sampai tiga tahun kedepan.
Konyol! Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Perasaanku selalu berbunga-bunga dan semuanya tampak indah. Beberapa minggu kemudian kak Randy memberitahuku bahwa proposalku telah diterima dan dalam beberapa hari kedepan dana penelitian dapat dicairkan.
Itu artinya aku semakin dekat dengan kak Randy.

+++

Laboratorium FKH UGM, empat bulan sebelum lomba…
“Percobaan kita mendekati hipotesa. Ini perkembangan yang baik,” kata kak Dhimas, rekan satu timku. Aku mendengarkan penjelasannya sambil bermain dengan anak ayam broiler yang digunakan untuk percobaan.
“Kak Randy kemana, Kak?” tanyaku saat kak Dhimas sedang memeriksa ayam-ayam yang lain. Dhimas tersenyum. “Randy sedang menjemput Annisa,” jawabnya.
“Yah, maklumlah. Annisa baru pulang dari Bandung,” sahut kak Lia yang juga rekan satu timku. Firasatku tidak enak. Annisa? Bandung? Apa hubungannya dengan kak Randy?
“Mereka pasti sedang melepas rindu. Memang pasangan itu sudah dua bulan tidak bertemu,” sahut rekan satu timku yang lain.
Melepas rindu? Pasangan? Mendadak aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Jadi malaikat itu telah memiliki pendamping?

+++

Laboratorium FKH UGM, dua bulan sebelum lomba…
Aku sedang mengamati ayam-ayam percobaan yang bobotnya meningkat dratis. Aku menggendong ayam itu satu persatu dan memindahkan ke sebuah wadah yang nantinya akan digunakan untuk menimbang. Kak Randy tersenyum dan merangkul pundakku. “Percobaan kita berhasil,” katanya. Aku langsung terdiam.
“Kenapa diam saja? Biasanya kau tidak pernah bisa diam,” tanya kak Randy. Aku menggeleng dan meninggalkannya. Mataku memanas. Kak Randy telah mengecewakanku dan sekarang dia pura-pura peduli padaku! Apakah setiap orang pernah merasakan patah hati dan putus asa karena cinta? Jika benar, maafkan aku Bunda. Aku telah menjadi salah satu dari mereka.

+++

Lab FKH UGM, dua minggu sebelum lomba…
Kak Dhimas menggandeng tanganku dan mengajakku duduk. Aku menurut. Dia memberiku segelas orange juice. “Presentasimu bagus,” kata kak Dimas singkat. Aku hanya tersenyum. Tiba-tiba aku merasakan tepukan di pundak kananku. Kak Randy.
“Wajahmu pucat. Jangan sampai sakit, ya,” kata Kak Randy. Aku mengangguk kecil. Tiba-tiba kak Dhimas bangkit. “Kita mulai lagi latihan presentasinya,” katanya dengan suara lantang. Kak Randy mendesah panjang dan kembali ke lab.
“Aku tidak suka kau dekat dengan Randy.”
“Loh, bukannya dia juga anggota tim?”
“Ya.”
“Mengapa kau melarang…”
“Karena aku menyukaimu!”

+++

8 Agustus 2009, detik-detik perlombaan…
“Yang terhormat, bapak ibu dewan juri dan para hadirin. Saya akan mempresentasikan hasil penelitian dari Avogadro Team tentang Pemanfaatan Air Perasan Tomat sebagai Feed Additive pada Ayam Broiler. ”
Semua mata menatapku sedangkan aku sibuk menenangkan diriku sendiri. Aku berpresentasi dengan lancar. Paling tidak aku dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh juri. Butuh waktu tiga puluh menit untuk menyelesaikan presentasiku dan berdebat dengan para penanya dan mematahkan argument-argumen mereka.
Semua anggota tim langsung mengerubungiku saat aku turun panggung. Saat itu, tangan kak Randy terulur ingin menjabat tanganku, namun terhalang oleh tubuh kak Dhimas yang telah lebih dulu merangkulku.
“Kita makan siang dulu, yuk,” ajak kak Dhimas. Aku mengangguk. Sekilas kulihat kak Randy, dia sedang mengepalkan tangannya. Saat itu aku masih berharap kak Randy akan mengejarku. Namun hatiku kembali sakit untuk yang kedua kalinya saat mengetahui dia ternyata hanya berani memandangku.
Saat kami kembali, ternyata dewan juri telah bersiap-siap untuk mengumumkan pemenangnya. Aku sama sekali tidak berharap menjadi juara, apalagi juara pertama. Namun tidak dengan anggota tim lainnya. Mereka tampak gelisah saat tim juri jeda sejenak untuk membacakan pemenang pertama.
“Juara pertama adalah… Avogadro Team dengan penelitian yang berjudul Pemanfaatan Air Perasan Tomat sebagai Feed Additive pada Ayam Broiler!”
Kak Dhimas langsung memelukku dengan erat sedangkan kak Randy menjabat tanganku. Aku sendiri melompat-lompat kegirangan dan menerima jabatan tangan dari anggota tim lainnya. Dengan penuh percaya diri aku melangkah menuju podium dan menerima ucapan dari dewan juri dan tim penilai.
Bunda! Aku menang! Dengan begini, sudahkah kau merasa bangga padaku?

+++

“Hey!”
Lamunanku buyar saat seseorang menepuk pundakku. Aku tersenyum. Seorang cowok yang sekarang telah resmi menjadi dokter hewan itu berdiri di hadapanku. Kak Randy. “Melamun?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Jangan bohong,” sahutnya. Aku tertawa dan menarik tangannya agar duduk di sebelahku. “Memoriku kembali lagi,” jawabku.
“Tentang malaikat itu?” tanya kak Randy. Aku mengangguk dan tersenyum. “Aku ingin sekali menuliskannya agar semua orang tahu, bahwa kita harus selalu berjuang untuk mendapatkan malaikat yang kita inginkan,” jawabku.
“Kau tidak berubah. Masih ambisius sepeti dulu.”
Aku tertawa mendengar perkataannya. “Ambisius? Bukankah saat perlombaan aku sama sekali tidak menginginkan kemenangan?” tanyaku. Giliran dia tertawa. Aku memandangnya. Wajahnya bersih, tampan, manis, dan sangat mencuri perhatian. Dagunya berjenggot tipis, dewasa, berwibawa, dan mampu membuatku jatuh cinta. Ah… malaikatku…

Mentari di Kaki Merpati

Kaki gunung merapi. Tidak pernah terbayangkan tempat ini akan menjadi tempat praktekku yang pertama setelah lulus dari fakultas kedokteran sebuah universitas ternama di Jakarta. Tanpa kusangka, sebuah desa bernama Ringinanom dengan jumlah penduduk tidak lebih dari seratus orang itu mampu memikat hatiku saat pertama kali aku datang. “Eh, pak dokter sudah datang. Monggo, mari silakan,” kata bu Lurah yang menyambutku di rumahnya. Jauhnya perjalanan yang harus kutempuh dan nyamannya udara desa yang bersih dari polusi membuatku tidak sabar untuk beristirahat. “Silakan beristirahat dulu, pak dokter. Maaf, tempatnya ndak seperti rumah pak dokter di kota,” kata bu Lurah lagi. Aku tersenyum dan menggeleng. “Tidak apa-apa, Bu,” kataku sambil menenteng tasku. Setelah mengucapkan terimakasih, aku segera merebahkan tubuhku di sebuah kamar kecil di samping kamar pak Lurah. Mataku hampir saja terpejam saat sebuah ketukan halus terdengar di pintu. “Ini kopi dan singkong rebus, pak dokter. Bisa untuk menghilangkan capek,” kata bu Lurah sambil membawakan nampan berwarna merah berisi segelas kopi dan sepiring singkong rebus yang masih mengepul. Aku memutuskan untuk makan bersama bu Lurah di ruang makan. “Oh, jadi pak dokter ini anak tunggal to,” kata bu Lurah sambil mencocol singkong rebusnya dengan garam. Aku mengangguk. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari luar. “Mboook. Ini sayur kangkungnya sudah dipetik,” kata seorang gadis yang langsung berdiri di samping bu Lurah. Dia tersenyum kikuk ke arahku setelah menyadari simboknya sedang bersama seseorang. “Kenalkan, Nduk. Ini dokter Yongki. Dia akan bertugas disini selama beberapa bulan,” kata bu Lurah sambil memperkenalkanku pada puterinya. Aku langsung menjulurkan tanganku. “Yongki,” kataku singkat. Gadis itu tersenyum manis. “Mentari,” jawabnya. Itulah yang membuatku terpikat untuk pertama kalinya. +++ Keesokan paginya, Mentari mengajakku untuk berkeliling desa dengan menaiki sepeda. Aku harus memahami lingkungan desa ini karena sore nanti aku sudah mulai praktek. Dengan sabar Mentari menjelaskan desanya padaku. Dia hafal dengan semua warga yang hidup di desanya. Hm… puteri lurah yang baik, batinku. Matahari mulai bersinar terik saat Mentari mengajakku ke kebun mentimun miliknya. Dia memetikkan sebuah timun berukuran besar dan memotongnya menjadi dua bagian. “Silakan dimakan,” katanya padaku yang sudah mulai mengibas-ngibaskan tangan karena kepanasan. Aku tersenyum dan mencari-cari air untuk mencuci mentimunku. “Sini biar saya bersihkan,” kata Mentari sambil mengambil mentimun itu dari tanganku. Dia mengelap mentimunku dengan selendang yang ada di pinggangnya. “Nih,” katanya sambil menyerahkan mentimun itu. Aku menerimanya dengan kikuk. “Tenang saja. Dokter ndak akan sakit perut gara-gara makan mentimun yang belum dicuci,” kata Mentari geli saat melihat keragu-raguanku. Aku segera menggigit mentimun itu. Dapat kurasakan kesegaran mengalir di kerongkonganku. Hm, lumayan, batinku sambil menggigit mentimun itu sekali lagi. Tiba-tiba Mentari tertawa. “Dokter ndak pernah makan timun sebelumnya ya?” tanyanya heran. “Eh… em… Pernah kok,” kataku kikuk sambil menatap Mentari yang sedang tersenyum manis. Dia kembali tertawa. “Tapi belum pernah kan, makan timun di tengah sawah begini?” tanyanya lagi. Aku tersenyum malu dan menggeleng. Mentari kembali tertawa lepas. Itulah yang membuatku terpikat untuk kedua kalinya. +++ Sore harinya, Mentari mengantarku ke sebuah klinik yang akan menjadi tempatku praktek. Rupanya beberapa orang manula dan dua orang balita telah menunggu kedatanganku. Aku bergegas masuk ke ruang praktek sedangkan Mentari mendaftar pasien satu persatu. “Bapak Slamet,” panggil Mentari. Seorang manula masuk. Aku segera menyilakannya duduk di kursi dan menanyakan keluhannya. Tak lama kemudian aku selesai memeriksa pasien pertamaku. Klinik kecil ini tidak memiliki ranjang periksa sehingga aku terpaksa memeriksa pasienku dengan posisi duduk. Klinik mulai ramai setelah seorang ibu bersama balita masuk ke ruang periksa. Balita berusia empat tahun itu menangis meraung-raung saat aku meminta ibunya menidurkannya di pangkuan. Untunglah Mentari datang dan membantuku menenangkan pasien kecil itu. Pasien ketigaku adalah seorang manula yang hanya mampu berbicara dalam bahasa Jawa. Aku yang tidak mengerti bahasa Jawa meminta bantuan Mentari untuk menerjemahkannya. Selanjutnya, beberapa orang manula dan balita selesai kuperiksa. Sore berganti petang saat aku mengunci pintu klinik. Aku dan mentari berjalan beriringan menuju rumah. “Kamu capek ya, Mentari?” tanyaku saat melihat wajah kusut Mentari. Dia menggeleng. “Ndak apa-apa kok, Mas Yongki,” jawabnya sambil tersenyum. Aku yang memintanya untuk memanggilku “mas” setelah acara makan memakan timun tadi siang. “Terimakasih ya, kamu sudah membantu saya di klinik sore ini,” kataku. Mentari tersenyum. “Itu tugas saya, Mas. Saya memang harus menemani mas Yongki selama bertugas disini,” kata Mentari. Jalan yang mulai gelap memaksaku lebih berhati-hati. Sesekali aku terperosok lubang di tengah jalan atau kakiku tertusuk duri-duri tanaman liar. Tanganku sibuk menggaruk-garuk leher dan telingaku yang menjadi sasaran empuk nyamuk malam itu. Tiba-tiba tangan Mentari meraih tanganku. “Sini Mas, biar saya bantu,” katanya sambil menggandeng tanganku. Itulah yang membuatku terpikat untuk ketiga kalinya. +++ Keesokan harinya aku mulai praktek full time di klinik. Meskipun pasienku tidak terlalu banyak, namun aku sedikit kelelahan karena harus menjelaskan berbagai macam hal pada pasien yang tampaknya masih kurang mengerti dengan penyakit yang mereka derita. “Pasien yang keenam belas, Mas. Sudah siap?” tanya Mentari sambil menatapku yang berkali-kali mendesah panjang. Aku hanya mengangguk. Tiba-tiba Mentari keluar dari ruangan dan berbicara sejenak dengan para pasien yang sedang antri. “Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Mohon maaf, praktek dokter akan dilanjutkan nanti pukul dua siang. Mohon maaf sekali. Terimakasih, Pak, Bu,” katanya dengan logat jawa yang khas. Mentari kembali ke ruang praktek dan duduk di depanku. “Mas Yongki capek ya?” tanyanya. Aku menggeleng dan tersenyum. “Nggak capek, tapi lelah,” jawabku sambil menelungkupkan kepalaku di meja. Mentari berteriak, “Uuu.” Dan melempar tutup pulpen ke kepalaku. Aku tertawa geli. “Iya, saya capek,” kataku sambil mengangkat kepalaku dari meja dan menatap wajah Mentari. Mentari melakukan hal yang sama. Dia menyandarkan kepalanya di meja. Kami saling berpandangan. Ah, Mentari… entah apa jadinya jika kau tidak membantuku disini, batinku. Tiba-tiba Mentari bangkit. “Mas Yongki genit ah,” kata Mentari sambil menutup mukanya. Dahiku berkerut heran. “Jangan melihat saya seperti itu to Mas. Ndak ilok. Tidak baik,” katanya. Aku tersenyum geli dan mengangguk-angguk tanda setuju. Polos sekali kau, Mentari! Keesokan paginya… Tidak seperti biasanya, Mentari tidak membangunkanku pagi ini. Bu Lurah dan pak Lurah juga tidak ada di rumah. Tiba-tiba seorang pria mengetuk pintu dengan keras. Segera kubuka pintu dan kudapati Mentari sedang berada dalam gendongannya. Pak Lurah, bu Lurah, dan beberapa warga mengikuti di belakangnya. “Mentari?!” Aku berteriak kaget. Mentari membuka matanya sekilas dan menatapku. “Segera baringkan di kamar. Biar saya periksa,” kataku sedikit panik. Mentari telah berada di ranjang sekarang. Aku hendak memeriksanya denyut nadinya saat tiba-tiba tangan Mentari menyentuh tanganku. “Saya ndak mau diperiksa, Mas,” kata Mentari lemah. Aku duduk di sebelahnya, meraba denyut nadinya, dan mencocokkannya dengan jam tangan yang kupakai. Normal kok, batinku sambil menggenggam tangan Mentari. “Ada apa, Mentari?” tanyaku sambil meraba dahinya. Panas! “Saya ndak apa-apa, Mas. Beneran deh, suer,” katanya polos. Aku tersenyum geli dan meminta Mentari meletakkan termometer di ketiaknya. Suhu badan Mentari yang tinggi membuatnya tidak bisa membantuku di klinik. Bertugas tanpa Mentari adalah hal paling repot yang harus kuhadapi saat ini. Ada dua puluh pasien yang harus kutangani dan tidak ada satupun dari mereka yang mau mengantre. Saat itulah tiba-tiba Mentari muncul. Dia langsung membantuku mengatur antrean pasien. “Kamu sudah baikan?” tanyaku saat aku selesai memeriksa pasien terakhirku. Mentari mengangguk dan duduk di hadapanku. Tanganku terjulur meraba dahi Mentari. Hm, demamnya sudah turun, batinku. “Terimakasih ya, Mas. Obatnya manjur. Mas Yongki pinter deh,” puji Mentari. Ada binar ketulusan di matanya saat itu. Aku tersenyum dan segera mengajaknya pulang. Itulah yang membuatku terpikat untuk keempat kalinya. +++ Suhu badan Mentari kembali naik saat kami sampai di rumah. Aku segera meminta Mentari untuk beristirahat. Malam harinya aku mengantarkan semangkuk bubur, segelas air, dan beberapa butir obat ke kamar Mentari. “Loh… Mas Yongki ndak usah repot-repot,” kata Mentari sambil membukakan pintu untukku. Aku menggeleng dan meletakkan nampan yang kubawa di meja. “Saya suapin ya,” tawarku. Mentari tersenyum malu dan mengangguk. Saat itu entah mengapa aku ikut tersipu malu melihatnya. “Besok kamu istirahat saja di rumah. Tidak usah ikut saya praktek,” kataku sambil menyuapkan bubur ke mulut Mentari. Mentari kontan menggeleng. “Kalau Mentari ndak bantuin Mas, nanti Mas repot,” katanya sambil memandangku penuh perhatian. “I can handle it. Trust me,” kataku yakin. Mentari terdiam dan menatap kedua mataku. “Mas yakin?” tanyanya. Aku mengangguk dan memasukkan satu suapan ke mulut Mentari. “Kita ukur suhu badan kamu ya,” kataku sambil menyerahkan termometer yang kukibas-kibaskan terlebih dahulu. Mentari menurut dan meletakkan termometer itu di ketiaknya. Aku mengamati Mentari sejenak. Tubuhnya lemas, suhu badannya tinggi, dan lidahnya sedikit kotor. Jangan-jangan… Malam semakin larut saat aku mendengar rintihan dari kamar Mentari. Pintuku diketuk seseorang. Pak Lurah.”Nak Yongki bisa bantu saya? Suhu badan Mentari tinggi sekali,” kata pak Lurah. Aku mengangguk dan menyambar stetoskopku yang ada di meja. “Mentari,” panggilku sambil menggenggam tangannya. Mentari hanya merintih. Matanya terpejam. “Mas… Mentari ndak apa-apa kok,” jawabnya lirih. Aku mendesah dan memakai stetoskopku. Tidak kupedulikan penolakan-penolakan Mentari saat aku memeriksanya. “Pak, apakah ada rumah sakit di sekitar sini?” tanyaku saat selesai memeriksa Mentari. Pak Lurah mengangguk. “Saya curiga Mentari terkena demam berdarah. Kita harus ke rumah sakit sekarang juga,” kataku. Pak Lurah dan bu Lurah mengangguk. Aku segera mengangkat tubuh Mentari ke mobilku. Satu jam kemudian Mentari tengah ditangani di UGD. Benar dugaanku. Mentari terkena demam berdarah. Trombositnya hanya separuh dari jumlah normal. Pada saat itu juga timbullah rasa sayangku padanya. Rasa sayang yang belum pernah timbul sebelumnya. Rasa sayang sejati seorang pria kepada wanita yang dicintainya… +++ Lagu Dear God milik Avenged mengalun dari ponselku. Aku yang masih terjaga malam itu segera mengangkat telepon yang masuk. “Dokter Yongki, ada pasien yang urgent melahirkan dan butuh operasi. Anda satu-satunya dokter bedah yang dapat kami hubungi,” kata seorang suster di seberang telepon. Aku mengangguk. Kupandangi Mentari yang masih terlelap. “Terimakasih untuk kenangan-kenangan indah itu, Mentari,“ kataku sambil mengecup keningnya. Pandanganku beralih ke seorang bayi laki-laki berusia enam bulan yang tertidur lelap di samping Mentari. Dia adalah Delvon Adirangga, buah cinta kami. Aku tersenyum dan membelai pipinya yang montok. Ayah dan bunda akan selalu menyayangimu, Nak.